Berita

Menggerakkan Ekonomi dari Kampung Susu Lawu

6
×

Menggerakkan Ekonomi dari Kampung Susu Lawu

Sebarkan artikel ini
Di kaki Gunung Lawu, Kampung Susu Lawu Singolangu, Magetan, Jawa Timur, terus berupaya mengembangkan potensi ekonomi lokal berbasis peternakan dan produk olahan susu.

CSRINDONESIANEWS – Di kaki Gunung Lawu, Kampung Susu Lawu Singolangu, Magetan, Jawa Timur, terus berupaya mengembangkan potensi ekonomi lokal berbasis peternakan dan produk olahan susu. Upaya tersebut kembali diperkuat melalui Program Indonesia Berdaya Dompet Dhuafa yang berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Magetan dan mendapat dukungan pendanaan dari Rohani Islam Otoritas Jasa Keuangan (ROIS OJK).

Program pemberdayaan ekonomi tersebut digelar pada Jumat, 4 September 2026. Penguatan tidak hanya diarahkan pada peningkatan kapasitas peternakan, tetapi juga pengembangan ekosistem usaha di sekitar Kampung Susu Lawu. Kafetaria, sarana produksi, hingga gerobak susu berbasis sepeda listrik menjadi bagian dari upaya memperluas nilai ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat.

 

 

Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro, yang akrab disapa Kang Suyat, menyambut positif kolaborasi tersebut. Menurutnya, pengembangan ekonomi masyarakat membutuhkan sinergi lintas pihak agar mampu memberikan manfaat dalam jangka panjang.

“Program pemberdayaan seperti ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi dalam jangka pendek, tetapi juga mampu meningkatkan kapasitas masyarakat agar semakin mandiri dan berdaya,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Dompet Dhuafa, Yayasan Wirausaha Indonesia Berdaya, dan OJK atas kolaborasi yang dilakukan.

Bagi Pemerintah Kabupaten Magetan, keberlanjutan program menjadi hal yang tidak kalah penting dari pemberian bantuan itu sendiri. Karena itu, Kang Suyat menitipkan tiga harapan kepada para penerima manfaat.

Pertama, seluruh bantuan dan aset yang diterima dapat dikelola secara amanah dan bertanggung jawab. Kedua, usaha terus dikembangkan sehingga memiliki nilai tambah dan mampu mendorong kemandirian ekonomi. Ketiga, pendampingan dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan sembari membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Potensi tersebut bukan tanpa alasan. Kampung Susu Lawu Singolangu memiliki modal sosial dan ekonomi yang kuat melalui aktivitas peternakan serta pengolahan susu. Pengembangan kafetaria menjadi salah satu langkah untuk memperluas rantai nilai, sehingga susu tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

BACA JUGA :  Lebih dari Sekadar Bisnis, Ade Fitrie Kirana Ingin Perempuan Berani Membangun Masa Depannya Sendiri

 

Memulihkan Peternakan, Memperluas Nilai Tambah

Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Ahmad Juwaini menjelaskan, program ini merupakan kelanjutan dari proses pendampingan yang telah dilakukan selama beberapa tahun.

Penguatan kembali dilakukan setelah sektor peternakan masyarakat sempat terdampak wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Kondisi tersebut membuat pemulihan peternakan menjadi salah satu prioritas dalam pengembangan Kampung Susu Lawu.

Intervensi program mencakup penambahan sapi perah, penyediaan sarana dan peralatan produksi, pengembangan fasilitas kafetaria, serta penyediaan sepeda untuk mendukung pemasaran susu segar.

Namun, pendekatan pemberdayaan tidak berhenti pada penyaluran aset. Masyarakat juga mendapatkan pendampingan dan pelatihan agar mampu mengelola usaha secara lebih baik.

“Pengembangan program tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi, tetapi juga menjaga kualitas dan memperbanyak produk olahan susu,” kata Ahmad.

Langkah tersebut menjadi penting karena peluang pasar produk susu dinilai cukup terbuka. Tantangan berikutnya adalah memastikan kapasitas produksi mampu mengikuti permintaan, sembari menjaga kualitas dan menciptakan produk olahan yang memiliki daya saing.

“Permintaan pasar cukup bagus. Tantangannya meningkatkan produksi, menjaga kualitas, dan mengembangkan produk olahan,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, Kampung Susu Lawu tidak hanya diposisikan sebagai kawasan peternakan, tetapi sebagai ekosistem ekonomi yang menghubungkan produksi, pengolahan, pemasaran, hingga aktivitas wisata dan kuliner.

 

Literasi Keuangan untuk Usaha yang Berkelanjutan

Dari sisi OJK, pemberdayaan ekonomi masyarakat juga perlu diikuti dengan peningkatan literasi dan inklusi keuangan. Kepala OJK Solo Mohammad Mufid menilai pemahaman mengenai pengelolaan keuangan menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan usaha mikro maupun peternakan rakyat.

Menurutnya, akses terhadap pembiayaan yang tepat dan kemampuan mengelola keuangan dapat membantu pelaku usaha mengembangkan bisnis secara lebih sehat.

BACA JUGA :  Belum Banyak Tersentuh Bantuan, Dompet Dhuafa Jangkau Penyintas di Dusun Bawang Merah

“Akses terhadap pembiayaan dan pengelolaan keuangan yang baik diharapkan dapat mendukung perkembangan usaha masyarakat,” jelas Mufid.

Ia menekankan bahwa program pemberdayaan semestinya tidak berhenti sebagai bantuan konsumtif. Penerima manfaat diharapkan mampu memanfaatkan dukungan yang diberikan sebagai modal untuk mengembangkan usaha secara mandiri dan menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi lingkungan sekitar.

Perspektif tersebut membuat penguatan Kampung Susu Lawu memiliki dimensi yang lebih luas: bukan sekadar meningkatkan produksi susu, tetapi membangun kapasitas masyarakat agar mampu mengelola aset, membaca peluang pasar, dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

 

Dari Susu hingga Kopi Arabika

Diversifikasi potensi ekonomi juga mulai diperkenalkan melalui penanaman kopi arabika. Kampung Susu Lawu menerima bibit kopi varietas arabika yang diharapkan dapat menjadi bagian dari pengembangan komoditas lokal di kawasan Sarangan.

Kehadiran komoditas kopi membuka peluang baru bagi masyarakat untuk tidak hanya bergantung pada sektor peternakan. Ke depan, kopi arabika tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi produk khas yang memperkuat identitas ekonomi dan pariwisata kawasan.

Pengembangan bibit kopi tersebut turut mendapat dukungan dari Kafe OJe Sweet Yummy yang berlokasi di Jalan Hasanudin No. 18, Selosari, Magetan, Jawa Timur.

Jika dikelola secara konsisten, integrasi antara peternakan, produk olahan susu, kuliner, kopi, dan aktivitas wisata dapat membentuk rantai ekonomi lokal yang saling menguatkan.

Pada akhirnya, kekuatan Kampung Susu Lawu bukan hanya terletak pada jumlah sapi atau volume susu yang dihasilkan. Masa depan kawasan ini bergantung pada kemampuan masyarakat mengubah potensi tersebut menjadi produk bernilai tambah, membangun tata kelola usaha yang sehat, serta menciptakan kolaborasi yang terus tumbuh.

Dari kaki Lawu, pemberdayaan ekonomi sedang diarahkan untuk bergerak lebih jauh: dari sekadar menghasilkan susu menjadi membangun kemandirian masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *