CSRINDONESIANEWS.COM — Kota Cilegon dikenal sebagai salah satu pusat industri strategis di Indonesia. Di balik geliat industrinya, terdapat tanggung jawab sosial yang perlu terus diperkuat agar pertumbuhan ekonomi berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Semangat itulah yang menjadi salah satu pesan utama dalam pengukuhan Forum Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Badan Usaha (TJSLBU) atau Forum Corporate Social Responsibility (CSR) Kota Cilegon sisa masa bakti 2023–2028. Kegiatan yang berlangsung di Hotel The Royale Krakatau, Kamis (12/2), tersebut dirangkaikan dengan Rapat Kerja Forum TJSLBU Tahun 2026.
Pengukuhan ini menjadi momentum untuk memperkuat posisi Forum CSR sebagai jembatan kolaborasi antara pemerintah daerah dan dunia usaha. Bukan sekadar menjalankan program tanggung jawab sosial, forum diharapkan mampu memastikan berbagai kontribusi perusahaan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan selaras dengan prioritas pembangunan daerah.
Dari Kepedulian Menjadi Kontribusi Nyata
Wali Kota Cilegon Robinsar menilai Forum CSR memiliki modal penting untuk menjalankan tugas tersebut. Menurutnya, jajaran forum diisi oleh individu yang memiliki pengalaman dan profesionalisme.
Namun, kemampuan tersebut harus dibarengi dengan kekompakan serta kesamaan niat.
“Kalau bicara profesionalisme dan pengalaman, saya yakin. Hanya tinggal kekompakan dan niat yang sama serta niat yang lurus. Insyaallah dengan niat yang lurus dan kekompakan, Forum CSR bisa memberi manfaat besar untuk masyarakat Kota Cilegon,” ujar Robinsar.
Bagi Pemerintah Kota Cilegon, pembangunan bukanlah pekerjaan yang dapat diselesaikan pemerintah seorang diri. Karakter Cilegon sebagai kota industri membuat keterlibatan dunia usaha menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pembangunan yang berkelanjutan.
“Dalam membangun Kota Cilegon ini, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Kita butuh dukungan semua stakeholder,” kata Robinsar.
Ia menekankan bahwa kolaborasi tersebut harus berangkat dari rasa memiliki terhadap Kota Cilegon. Ketika dunia usaha memiliki kepedulian terhadap lingkungan tempat mereka beroperasi, kontribusi sosial diharapkan tidak lagi dipandang sebagai kewajiban semata, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.
CSR Harus Menjawab Persoalan di Sekitar
Robinsar juga mengingatkan bahwa masih terdapat berbagai persoalan sosial yang membutuhkan perhatian serius. Pendidikan dan infrastruktur dasar menjadi dua sektor yang disorot.
Ia menyinggung kondisi sejumlah sekolah yang belum memenuhi kelayakan, termasuk keterbatasan ruang kelas yang menyebabkan kegiatan belajar harus dibagi dalam dua waktu. Di sisi lain, masih terdapat masyarakat yang tinggal di rumah tidak layak huni dan menghadapi persoalan kebocoran ketika hujan.
Persoalan-persoalan tersebut, menurut Robinsar, semestinya menjadi bagian dari perhatian bersama, termasuk melalui program CSR perusahaan.
Karena itu, ia meminta agar distribusi CSR tidak terlalu jauh dari wilayah operasional dan kebutuhan masyarakat Cilegon.
“Di Cilegon masih banyak PR yang harus kita selesaikan. Tugas Forum CSR adalah mengoordinir dan memastikan bantuan tepat sasaran bagi masyarakat Kota Cilegon,” tegasnya.
Pesan tersebut memperlihatkan arah baru yang ingin dibangun: CSR tidak hanya berbicara mengenai besaran bantuan, tetapi juga ketepatan sasaran, kesinambungan program, dan dampak yang dirasakan masyarakat.
Membangun Hubungan yang Saling Menguatkan
Pemerintah Kota Cilegon juga menempatkan dunia industri sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah.
Robinsar menginginkan terciptanya hubungan yang saling menguntungkan antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha. Menurutnya, keberlangsungan industri dan kemajuan Kota Cilegon memiliki keterkaitan yang erat.
“Kita ingin ada simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan dan saling menguatkan. Cilegon adalah kota industri. Kalau industrinya hidup, insyaallah Cilegon juga hidup,” tuturnya.
Pendekatan ini menempatkan CSR sebagai bagian dari ekosistem pembangunan. Industri membutuhkan lingkungan usaha yang kondusif, sementara masyarakat membutuhkan kontribusi nyata dari aktivitas ekonomi yang berlangsung di wilayah mereka.
Dengan demikian, hubungan pemerintah dan industri tidak berhenti pada koordinasi administratif, tetapi berkembang menjadi kemitraan strategis untuk menciptakan manfaat bersama.
Forum sebagai Ruang Kolaborasi
Ketua Pelaksana Kegiatan Forum CSR Muhammad Irham menjelaskan, kepengurusan Forum CSR Kota Cilegon melibatkan berbagai unsur, mulai dari perwakilan industri, kalangan profesional, perguruan tinggi, hingga media massa.
Komposisi tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas forum dalam menjalankan fungsi koordinasi dan menyusun program yang lebih terpadu.
Menurut Irham, Forum TJSLBU memiliki peran penting dalam mendorong kesejahteraan masyarakat sekaligus menyusun kerangka kebijakan dan program kerja yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Salah satu target utama adalah memastikan manfaat program dapat dirasakan secara merata di seluruh wilayah Cilegon, yang mencakup 8 kecamatan dan 43 kelurahan.
“Harapannya Forum CSR dapat menyelaraskan program pemerintah dan industri agar manfaatnya merata di 8 kecamatan dan 43 kelurahan di Kota Cilegon secara berkeadilan dan berkelanjutan,” ujarnya.
Bukan Ruang Komando
Ketua Forum CSR Kota Cilegon yang dikukuhkan, Saeful Rochman, menegaskan bahwa forum tersebut dibangun sebagai ruang sinergi.
Proses pembentukannya telah berlangsung sejak 2023 sebagai bagian dari pelaksanaan amanat regulasi terkait tanggung jawab sosial dan lingkungan badan usaha. Dengan pengukuhan kepengurusan, forum kini diharapkan dapat bekerja lebih optimal hingga akhir masa bakti 2023–2028.
Saeful menekankan bahwa Forum CSR bukan lembaga yang mengambil alih kewenangan pihak lain. Sebaliknya, forum berfungsi mempertemukan berbagai kepentingan dan niat baik agar kontribusi dunia usaha dapat berjalan searah dengan agenda pembangunan daerah.
“Forum ini adalah ruang sinergi, bukan ruang komando. Kami tidak mengambil alih peran siapa pun, melainkan mempertemukan niat baik dan memastikan kontribusi sosial perusahaan berjalan searah dengan pembangunan Kota Cilegon,” jelas Saeful.
Ia juga menyatakan dukungan terhadap visi pembangunan “Cilegon Juare”, yang diarahkan pada terwujudnya kota modern, inklusif, dan ramah lingkungan.
Dalam konteks tersebut, stabilitas daerah, kepastian berusaha, serta hubungan yang harmonis antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha menjadi fondasi penting.
Menuju CSR yang Berdampak dan Berkelanjutan
Pengukuhan Forum CSR Kota Cilegon membawa harapan baru terhadap tata kelola kontribusi sosial dunia usaha. Tantangannya bukan hanya bagaimana mengumpulkan dan menyalurkan bantuan, tetapi bagaimana memastikan setiap program memiliki relevansi, kesinambungan, serta dampak yang terukur.
Ke depan, kolaborasi pemerintah dan industri diharapkan mampu menjawab sejumlah persoalan strategis: meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperbaiki infrastruktur dasar, memperkuat UMKM, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Di tengah statusnya sebagai kota industri, Cilegon memiliki peluang besar untuk menjadikan CSR sebagai kekuatan pembangunan. Dengan koordinasi yang baik, program yang tepat sasaran, dan komitmen bersama, kontribusi dunia usaha dapat menjadi bagian penting dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Pengukuhan Forum TJSLBU 2026 pun bukan sekadar agenda organisasi. Lebih jauh, momentum ini menjadi penanda komitmen untuk membangun kolaborasi yang lebih terarah, inklusif, dan berkelanjutan—agar pertumbuhan industri berjalan seiring dengan meningkatnya kualitas hidup masyarakat Kota Cilegon.












