BeritaLingkungan

Melawan Karhutla, Menjaga Bumi dan Masyarakat

5
×

Melawan Karhutla, Menjaga Bumi dan Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Di tengah puncak musim kemarau, PT Multi Tambangjaya Utama (MUTU) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Tim ERG bersama mitra kerja bergerak cepat memadamkan api sekaligus menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak kekeringan dan kabut asap.

CSRINDONESIANEWS – Puncak musim kemarau membawa tantangan serius bagi sejumlah wilayah di Kalimantan Tengah. Kabupaten Barito Timur, Barito Selatan, dan Barito Utara masih menghadapi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang membutuhkan kewaspadaan tinggi.

Dalam situasi seperti ini, penanganan Karhutla tidak dapat hanya mengandalkan satu pihak. Dibutuhkan keterlibatan pemerintah, aparat, perusahaan, masyarakat, hingga kelompok relawan untuk memastikan setiap titik api dapat dideteksi dan ditangani sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih besar.

Di tengah kondisi tersebut, PT Multi Tambangjaya Utama (MUTU) memperkuat perannya melalui tim Emergency Response Group (ERG) bersama mitra kerja dan kontraktor. Mereka turun langsung membantu penanganan kebakaran di sejumlah lokasi, khususnya di sekitar wilayah operasional perusahaan.

 

Bergerak Cepat di Titik Api

Dalam sepekan terakhir, tim ERG PT MUTU dan mitra kerja bergerak ke sejumlah lokasi yang mengalami kebakaran lahan.

Beberapa di antaranya berada di KM 10–11, area Desa Malitin; KM 45, 46, 47, dan 48 Desa Ugang Sayu; area Swalang; Desa Bipak Kali; serta Desa Bintang Ara, Kecamatan Gunung Bintang Awai (GBA).

Tak hanya fokus pada area operasional perusahaan, personel ERG juga dikerahkan untuk membantu Masyarakat Peduli Api (MPA) di Desa Ugang Sayu, Desa Palu Rejo, Desa Malitin, serta MPA Kecamatan Karau Kuala.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa respons terhadap Karhutla membutuhkan kecepatan. Api yang awalnya muncul di lahan semak atau kebun dapat dengan cepat meluas ketika kondisi kering dan angin mendukung.

Kepala Teknik Tambang (KTT) PT MUTU, Ari Tri Atmoko, mengatakan kesiapsiagaan menjadi bagian penting dari komitmen perusahaan dalam menjaga keselamatan masyarakat, lingkungan, sekaligus memastikan fasilitas operasional tetap aman.

“Kami terus meningkatkan kesiapsiagaan guna menghadapi kondisi kemarau dan potensi kebakaran lahan. Ketika ada laporan maupun ditemukan titik api di sekitar wilayah operasional perusahaan, kami langsung melakukan pengecekan dan berkoordinasi untuk membantu proses pemadaman agar api tidak meluas dan membahayakan masyarakat.”

 

Tak Hanya Memadamkan Api

Respons PT MUTU tidak berhenti pada upaya pemadaman. Ketika kebakaran dan kekeringan mulai berdampak terhadap kehidupan masyarakat, perusahaan turut menyalurkan bantuan kebutuhan dasar.

BACA JUGA :  PT Sapta Medika Perluas Perlindungan Pekerja Rentan melalui Program CSR

Melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) atau Corporate Social Responsibility (CSR), perusahaan memberikan sejumlah bantuan, antara lain air bersih, masker, sembako, serta sarana dan peralatan pemadam kebakaran.

Bantuan air bersih disalurkan kepada masyarakat Desa Ugang Sayu yang menghadapi dampak kekeringan. Sementara masker diberikan kepada warga di wilayah Ring 1, khususnya siswa sekolah dasar dan kelompok lanjut usia yang rentan terhadap paparan kabut asap.

Selain itu, bantuan sembako dan sarana pendukung untuk MPA juga terus disalurkan secara bertahap.

“Kami juga sudah menyiapkan dan menyalurkan bantuan PPM untuk bencana kekeringan dan Karhutla ini, seperti bantuan air bersih ke Desa Ugang Sayu, bantuan masker untuk warga yang ada di Desa Ring 1, terutama diperuntukkan kepada siswa SD dan para lansia. Ada juga bantuan sembako dan bantuan sarana MPA yang saat ini masih bertahap kami salurkan,” jelas Ari.

 

Api di Semak hingga Dekat Fasilitas Operasional

Sebagian besar kebakaran yang ditangani tim berada di lahan semak belukar dan perkebunan. Namun, sejumlah titik api juga ditemukan berada di sekitar fasilitas operasional perusahaan.

Situasi tersebut membutuhkan penanganan cepat. Selain berpotensi mengganggu aktivitas operasional, api yang tidak segera dikendalikan dapat meluas dan menciptakan risiko lebih besar bagi lingkungan maupun masyarakat di sekitar kawasan.

Karena itu, patroli, pemantauan titik rawan, kesiapan personel, serta koordinasi menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan.

 

Kolaborasi adalah Kunci

Division Head External PT MUTU, Arif Bunyamin, menegaskan bahwa Karhutla merupakan persoalan yang membutuhkan kerja bersama.

Menurutnya, perusahaan tidak dapat bekerja sendiri. Sinergi dengan pemerintah, aparat, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam mempercepat deteksi dan penanganan titik api.

“Karhutla merupakan tantangan bersama, kami mengajak masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan titik api di area perusahaan. Semakin cepat informasi diterima, semakin cepat pula penanganan dapat dilakukan.”

Koordinasi juga terus dilakukan apabila kebakaran terjadi di luar wilayah operasional perusahaan. Dengan komunikasi yang baik antarpihak, penanganan dapat dilakukan secara lebih cepat sekaligus mencegah api berkembang menjadi bencana yang lebih luas.

BACA JUGA :  Belum Banyak Tersentuh Bantuan, Dompet Dhuafa Jangkau Penyintas di Dusun Bawang Merah

 

Kesiapsiagaan yang Berkelanjutan

Karhutla bukan sekadar persoalan api. Di baliknya terdapat ancaman terhadap kualitas udara, kesehatan masyarakat, ekosistem, hingga aktivitas ekonomi.

Karena itu, pendekatan yang dilakukan PT MUTU menggabungkan beberapa langkah sekaligus: kesiapsiagaan personel, patroli, respons cepat, pemadaman, koordinasi lintas pihak, serta dukungan sosial bagi masyarakat terdampak.

Melalui dukungan program CSR untuk wilayah yang mengalami kekeringan dan terdampak Karhutla, perusahaan berupaya memastikan masyarakat tidak menghadapi situasi sulit seorang diri.

“Dengan kesiapsiagaan personel, patroli dan bantuan CSR untuk wilayah kekeringan dan terdampak Karhutla, PT MUTU memastikan dukungan terhadap upaya penanganan Karhutla dapat terus dilakukan dengan cepat, tepat dan terukur, terkhusus di area perusahaan,” tandas Arif.

Pada akhirnya, upaya menghadapi Karhutla bukan hanya tentang seberapa cepat api dipadamkan, tetapi juga seberapa kuat semua pihak membangun budaya pencegahan.

Di tengah musim kemarau yang penuh tantangan, kolaborasi menjadi garis pertahanan utama—untuk menjaga lingkungan, melindungi masyarakat, dan memastikan bumi tetap menjadi ruang hidup yang aman bagi generasi berikutnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *