BeritaLingkungan

#PuntungBeruntung Hadirkan Static HUB di Kudus, Jadi Ruang Belajar Soal Produk Pascakonsumsi

2
×

#PuntungBeruntung Hadirkan Static HUB di Kudus, Jadi Ruang Belajar Soal Produk Pascakonsumsi

Sebarkan artikel ini
Static HUB hadir di FIBO Coffee and Roastery, Kudus, Jawa Tengah.

CSRINDONESIANEWS – Gerakan kolektif dan inisiatif kepedulian lingkungan yang diinisiasi oleh Nojorono Kudus, #PuntungBeruntung, menghadirkan Static HUB di FIBO Coffee & Roastery, Kudus, Jawa Tengah.

Terbuka untuk umum, ruang tersebut hadir sebagai wadah edukasi dan eksplorasi gagasan kreatif mengenai potensi produk pascakonsumsi.

Sejak diperkenalkan pada 2023, #PuntungBeruntung secara konsisten mengajak masyarakat untuk melihat tanggung jawab terhadap produk pascakonsumsi sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari. Berkolaborasi dengan KICKYOURBUTT Project (KYB), Static HUB dirancang menggunakan pendekatan kreatif dan partisipatif.

Masyarakat dapat melihat berbagai gagasan dan hasil pengolahan produk pascakonsumsi melalui aktivitas yang dikembangkan di ruang tersebut.

Project Manager KICKYOURBUTT Project Arya Adhi mengatakan, Static HUB tidak hanya dirancang sebagai ruang pamer, tetapi juga sebagai titik temu bagi berbagai ide dan kolaborasi.

“Di Static HUB, masyarakat dapat melihat berbagai kemungkinan dan pencapaian dari pengolahan produk pascakonsumsi. Kami berharap, Static HUB dapat berkembang bersama komunitas dan melahirkan semakin banyak inisiatif positif,” ujar Arya dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Rabu (9/9/2026).

Static HUB akan dikembangkan melalui berbagai kegiatan dan kolaborasi yang relevan, khususnya bagi generasi muda dan komunitas kreatif.

Dengan konsep tersebut, ruang itu diharapkan dapat menjadi tempat bagi masyarakat untuk memperoleh perspektif baru mengenai produk pascakonsumsi sambil memahami isu keberlanjutan melalui pendekatan yang lebih dekat dengan keseharian.

Dorong Perubahan Perilaku Secara Bertahap

Corporate Social Responsibility (CSR) Department Head PT Nojorono Tobacco International Dimas Handoko mengatakan, edukasi mengenai pascakonsumsi merupakan bagian dari upaya jangka panjang perusahaan untuk membangun kebiasaan masyarakat yang lebih sadar terhadap pengelolaan produk setelah digunakan.

Menurut dia, perubahan perilaku tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan konsistensi serta keterlibatan berbagai elemen masyarakat agar kesadaran tersebut dapat berkembang menjadi kebiasaan.

BACA JUGA :  Teknologi Pertanian Modern Bidik Produktivitas Padi 10 Ton per Hektare di Papua

“Melalui Static HUB, kami ingin memperkuat #PuntungBeruntung dalam menghadirkan edukasi yang lebih dekat dengan publik serta membangun ekosistem kolaboratif yang mendorong kesadaran terhadap pascakonsumsi,” ujar Dimas.

Ia berharap, Static HUB dapat menjadi titik temu bagi berbagai gagasan dan inisiatif yang memberikan dampak positif bagi lingkungan sosial di sekitarnya.

Dimas menambahkan, perjalanan #PuntungBeruntung ke depan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Inisiatif tersebut juga diharapkan mampu membuka lebih banyak ruang kolaborasi bersama individu, komunitas, dan organisasi yang memiliki perhatian terhadap isu pascakonsumsi.

Perluas Ruang Kolaborasi

Pengembangan Static HUB menjadi salah satu langkah #PuntungBeruntung untuk memperluas keterlibatan masyarakat dalam isu pascakonsumsi.

Dimas mengatakan, kolaborasi menjadi salah satu aspek penting untuk memastikan upaya membangun kesadaran tidak berhenti pada edukasi, tetapi dapat berkembang menjadi kebiasaan yang dilakukan secara berkelanjutan.

“Kami ingin #PuntungBeruntung berkembang sebagai platform yang relevan dan mampu menciptakan nilai bersama. Kehadiran Static HUB merupakan salah satu langkah nyata untuk mewujudkan visi tersebut,” kata Dimas.

Ia pun berharap, semakin banyak individu, komunitas, dan organisasi yang terlibat dalam berbagai kegiatan yang dikembangkan melalui #PuntungBeruntung.

Dengan keterlibatan yang lebih luas, kesadaran mengenai pascakonsumsi diharapkan dapat tumbuh menjadi bagian dari kebiasaan dan budaya masyarakat.

“Kami percaya, perubahan yang berkelanjutan dapat tercipta melalui kolaborasi dan komitmen jangka panjang,” ujar Dimas. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *