BeritaKesehatan

Posyandu Jadi Titik Bangkit Pemulihan Kesehatan Pascabencana di Tapanuli Tengah

5
×

Posyandu Jadi Titik Bangkit Pemulihan Kesehatan Pascabencana di Tapanuli Tengah

Sebarkan artikel ini
Peresmian kedua Posyandu tersebut berlangsung dalam kegiatan Diseminasi Program, Peresmian Posyandu, dan Penguatan Keberlanjutan Pemulihan Kesehatan Pascabencana di Kantor Desa Kebun Pisang, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kamis (10/9).

CSRINDONESIANEWS — Setelah bencana banjir menerjang dan meninggalkan dampak panjang bagi kehidupan masyarakat, proses pemulihan tidak berhenti ketika masa tanggap darurat berakhir. Di tengah upaya warga untuk bangkit, layanan kesehatan menjadi salah satu fondasi penting untuk memulihkan kehidupan.

Komitmen itulah yang terus diperkuat Dompet Dhuafa melalui peresmian dua Posyandu di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Posyandu Seiya Sekata dan Posyandu Setia Kawan kini menjadi bagian dari langkah pemulihan kesehatan masyarakat pascabencana, sekaligus ruang baru untuk memastikan pelayanan kesehatan dasar tetap berjalan secara berkelanjutan.

Peresmian kedua Posyandu tersebut berlangsung dalam kegiatan Diseminasi Program, Peresmian Posyandu, dan Penguatan Keberlanjutan Pemulihan Kesehatan Pascabencana di Kantor Desa Kebun Pisang, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kamis (10/9).

Bagi masyarakat yang sempat merasakan beratnya dampak bencana, kehadiran fasilitas kesehatan ini bukan sekadar pembangunan sarana fisik. Lebih dari itu, Posyandu menjadi simbol kebangkitan dan harapan untuk kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Memulihkan Kesehatan, Menguatkan Kemandirian

General Manager Kesehatan Dompet Dhuafa, dr. Yeni Purnamasari, MKM, mengatakan pemulihan kesehatan pascabencana membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar membangun kembali fasilitas yang terdampak.

Menurutnya, masyarakat harus diperkuat agar memiliki kemampuan untuk melanjutkan pelayanan kesehatan secara mandiri setelah program pendampingan berakhir.

“Pendampingan recovery selama tujuh bulan tidak hanya berfokus pada pembangunan sarana fisik, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat agar mampu melanjutkan layanan kesehatan secara mandiri,” ujar Yeni.

Pendampingan yang dilakukan sejak Februari hingga Agustus 2026 itu mencakup berbagai aspek, mulai dari pelatihan dan pendampingan kader, penguatan layanan Posyandu, pemantauan kesehatan ibu dan anak, dukungan gizi, hingga penyediaan sarana dan prasarana kesehatan.

Selama fase pemulihan, LKC Dompet Dhuafa mendampingi 243 balita dan 28 ibu hamil, termasuk 16 ibu hamil dengan kondisi Kekurangan Energi Kronis (KEK) atau anemia. Dukungan pangan juga diberikan melalui 1.554 porsi makanan dan Pemberian Makanan Pendamping ASI (PMBA) bagi masyarakat terdampak.

Upaya penguatan layanan kesehatan turut diwujudkan melalui dukungan peralatan dan fasilitas. Sebanyak 30 antropometri kit, 30 tensimeter, dua doppler, dan satu partus set disalurkan untuk menunjang pelayanan. Selain itu, tersedia pula 310 kelambu, tiga alat fogging, serta berbagai sarana dan prasarana Posyandu.

BACA JUGA :  Jelang HUT ke-81, PMI Jakarta Timur Berikan Dukungan STBM di Cipinang

“Recovery bukan hanya tentang membangun kembali fasilitas yang terdampak, tetapi bagaimana memastikan masyarakat kembali memiliki kemampuan untuk menjalankan layanan kesehatan secara mandiri,” kata Yeni.

Karena itu, lanjutnya, penguatan kader, pemantauan kesehatan ibu dan anak, pengembangan layanan Posyandu, serta penyediaan sarana kesehatan menjadi bagian yang saling berkaitan dalam proses pemulihan masyarakat.

 

Dari Masa Darurat hingga Fase Pemulihan

Keterlibatan Dompet Dhuafa di Tapanuli Tengah sebenarnya telah dimulai sejak awal bencana terjadi pada November 2025.

Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Waspada, Sulaiman, mengatakan pihaknya bersama jejaring Dompet Dhuafa terlibat dalam berbagai upaya penanganan masyarakat terdampak, mulai dari evakuasi hingga penyaluran bantuan.

Bantuan tersebut mencakup distribusi logistik, pembangunan dapur umum, penyediaan air bersih, hingga pembangunan wakaf sumur.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dan seluruh pihak sehingga keseluruhan program bisa berjalan dengan baik. Saat ini pada program peresmian Posyandu, kami menitipkan amanah ini kepada bapak ibu sekalian sehingga dapat digunakan dengan baik dan dirasakan manfaat kehadirannya oleh masyarakat,” ujar Sulaiman.

Ia berharap sarana yang telah dibangun dan diperkuat dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat dan menjadi bagian dari keberlanjutan pelayanan kesehatan di wilayah yang terdampak bencana.

Sebelum memasuki fase pemulihan, LKC Dompet Dhuafa telah menjalankan respons kesehatan selama masa tanggap darurat yang berlangsung sejak November 2025 hingga Februari 2026.

Dalam periode tersebut, sebanyak 4.542 penerima manfaat memperoleh dukungan layanan kesehatan.

Respons itu melibatkan empat relawan tenaga kesehatan dan menjangkau sejumlah wilayah terdampak melalui berbagai layanan. Sebanyak 1.545 penerima manfaat mendapatkan layanan pos medis di 26 titik, sementara 1.276 penerima manfaat menerima layanan corner gizi di delapan titik.

Selain itu, layanan kesehatan reproduksi menjangkau 1.056 penerima manfaat di delapan titik. Sebanyak 152 penerima manfaat memperoleh layanan kesehatan jiwa, sementara 513 penerima manfaat menerima bantuan individual kit.

BACA JUGA :  HUT ke-2 Injourney Airports, PT.Angkasa Pura Indonesia Salurkan Bantuan untuk Difabel di Tanjungpinang

Untuk mendukung mobilisasi pelayanan kesehatan di wilayah terdampak, LKC Dompet Dhuafa juga menurunkan mobil layanan kesehatan atau ambulans bertenaga 4×4 serta satu mobil operasional.

Setelah fase darurat berakhir, fokus intervensi kemudian bergeser menuju pemulihan dan penguatan layanan kesehatan masyarakat, khususnya melalui Posyandu di Desa Kebun Pisang, Kecamatan Badiri, dan Kelurahan Sipange, Kecamatan Tukka.

 

Apresiasi Pemerintah untuk Kolaborasi Kemanusiaan

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah, Lisnawati Panjaitan, S.Kep., Ners., M.Kes., memberikan apresiasi terhadap kontribusi Dompet Dhuafa dalam proses penanganan bencana hingga memasuki fase pemulihan.

“Kami semangat untuk pulih. Kami mewakili Pemerintah Tapteng mengucapkan terima kasih kepada Dompet Dhuafa yang sudah berkontribusi aktif sejak awal terjadi bencana,” kata Lisnawati.

Ia berharap keberadaan Posyandu yang telah diperkuat dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.

“Semoga output yang dirasakan masyarakat lebih baik lagi. Pergunakan gedung pemberian Dompet Dhuafa ini dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Semangat serupa juga datang dari tingkat desa. Plt. Kepala Desa Kebun Pisang, Rismon Alexandro Sianipar, S.Kom., menyebut kehadiran program pemulihan kesehatan tersebut memberikan dorongan moral bagi pemerintah desa dan masyarakat untuk kembali bangkit.

Menurutnya, Posyandu memiliki peran penting dalam meningkatkan pelayanan kesehatan, terutama bagi ibu dan anak, sekaligus mendukung upaya pencegahan stunting.

“Kehadiran bapak/ibu dari Dompet Dhuafa menjadi suntikan semangat bagi kami di tingkat desa untuk terus meningkatkan pelayanan, khususnya dalam pelayanan kesehatan ibu dan mencegah stunting. Semoga dengan adanya Posyandu ini dapat menurunkan angka stunting di desa kita,” ujar Rismon.

Bencana, kata dia, telah meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Desa Kebun Pisang. Namun, berbagai bentuk dukungan yang hadir selama proses pemulihan menjadi energi baru untuk kembali menata kehidupan.

“Pasca bencana kami merasakan duka yang sangat berat. Maka dengan adanya kehadiran ini kami merasa bangkit lagi. Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,” katanya.

BACA JUGA :  Mendorong Kemandirian Penyandang Disabilitas melalui Pemberdayaan Inklusif

 

Komitmen untuk Keberlanjutan

Peresmian Posyandu tidak berhenti pada penyerahan bangunan dan peralatan. Dalam kegiatan tersebut, seluruh pihak juga melakukan penandatanganan komitmen bersama untuk mendukung keberlanjutan pemulihan kesehatan pascabencana.

Komitmen itu mencakup keberlanjutan layanan kesehatan dasar, penguatan peran Posyandu dan kader, pemanfaatan serta pemeliharaan sarana dan alat kesehatan, hingga penguatan kolaborasi antara pemerintah, fasilitas kesehatan, masyarakat, dan mitra.

LKC Dompet Dhuafa turut melakukan simbolisasi dukungan pemulihan melalui penyerahan berbagai bantuan, mulai dari 30 antropometri kit, 30 tensimeter, dua doppler, satu partus set, 310 kelambu, selimut, tiga alat fogging, media Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE), hingga sarana dan prasarana Posyandu.

Sejumlah pemangku kepentingan turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Plh. Camat Badiri Rudi Hartono, S.Sos., Plh. Camat Tukka Frengki M. H. Simanungkalit, S.T., Kepala Puskesmas Hutabalang Imelda Sari Tutu Tambunan, S.K.M., Kepala Puskesmas Tukka dr. Maruli Tua Silalahi, M.Kes., serta jajaran pemerintah daerah dan perwakilan Dompet Dhuafa.

 

Posyandu, Ruang Kecil dengan Harapan Besar

Bagi masyarakat di wilayah terdampak bencana, pemulihan sering kali dimulai dari hal-hal yang sederhana: layanan kesehatan yang kembali tersedia, kader yang kembali aktif, ibu yang bisa memantau tumbuh kembang anaknya, hingga masyarakat yang memiliki akses terhadap sarana kesehatan yang memadai.

Dua Posyandu yang diresmikan di Tapanuli Tengah menjadi bagian dari cerita tersebut.

Bangunan mungkin menjadi simbol yang terlihat. Namun, di baliknya terdapat proses pendampingan, penguatan kapasitas masyarakat, kerja sama lintas sektor, serta harapan agar warga tidak hanya pulih dari dampak bencana, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menjaga keberlanjutan kesehatannya sendiri.

Bagi Dompet Dhuafa, proses pemulihan pascabencana bukan sekadar tentang menghadirkan bantuan. Pemulihan adalah tentang mengembalikan kemampuan masyarakat untuk kembali berdiri, bergerak, dan membangun masa depannya.

Dan dari sebuah Posyandu di Tapanuli Tengah, harapan itu kembali tumbuh. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *