BeritaTokoh Inspirasi

Paundra Hanutama: Mengubah Pendidikan Global Menjadi Dampak Nyata untuk Indonesia

7
×

Paundra Hanutama: Mengubah Pendidikan Global Menjadi Dampak Nyata untuk Indonesia

Sebarkan artikel ini
Paundra Hanutama kembali menorehkan pencapaian akademik sekaligus memperkuat komitmennya terhadap agenda keberlanjutan di Indonesia. Ia resmi meraih gelar master keduanya setelah menyelesaikan program Master of Science in Sustainability Management di Schiller International University, Paris, melalui Global Citizen Scholarship.

CSRINDONESIANEWS – Paundra Hanutama kembali menorehkan pencapaian akademik sekaligus memperkuat komitmennya terhadap agenda keberlanjutan di Indonesia. Ia resmi meraih gelar master keduanya setelah menyelesaikan program Master of Science in Sustainability Management di Schiller International University, Paris, melalui Global Citizen Scholarship.

Bagi Paundra, pencapaian tersebut bukan sekadar tambahan gelar akademik. Pendidikan di Paris menjadi bagian dari upaya memperluas perspektif sekaligus memperkuat kompetensi dalam mengembangkan pendekatan keberlanjutan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Sepulang dari Paris, ia memilih kembali memfokuskan aktivitasnya di Indonesia melalui Mangrove Jakarta. Fokus tersebut mencakup konservasi ekosistem pesisir, edukasi lingkungan, pemberdayaan generasi muda, hingga pengembangan sustainable entrepreneurship.

Pengalaman belajar dalam lingkungan internasional memperkenalkan Paundra pada berbagai pendekatan mengenai bagaimana sustainability dapat diterapkan melalui kolaborasi, inovasi, dan pemberdayaan berbasis masyarakat. Kini, pengetahuan tersebut ingin ia terjemahkan menjadi aksi yang memiliki dampak nyata di Indonesia.

Dari Konservasi ke Pemberdayaan Generasi Muda

Dikenal sebagai “Bapak Mangrove Milenial Indonesia”, Paundra selama ini tidak hanya membangun gerakan konservasi, tetapi juga mendorong keterlibatan generasi muda dalam isu lingkungan.

Melalui program Duta Mangrove Indonesia, ia membuka ruang bagi anak muda untuk mengambil peran sebagai edukator sekaligus penggerak kampanye pelestarian mangrove. Langkah tersebut kemudian diperluas melalui Mangrove Impact Fellowship, program yang mempertemukan generasi muda dari berbagai negara untuk belajar sekaligus terlibat langsung dalam konservasi mangrove di Indonesia.

Program tersebut telah menghadirkan delegasi anak muda dari 14 negara dan membangun jejaring internasional dengan beragam perspektif mengenai lingkungan dan keberlanjutan.

Bagi Paundra, keterlibatan generasi muda merupakan faktor strategis dalam memastikan gerakan konservasi dapat berkembang secara berkelanjutan dan lintas generasi.

“Meraih master kedua melalui Global Citizen Scholarship merupakan sebuah pencapaian yang sangat berarti bagi saya. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana ilmu yang saya dapatkan dapat saya bawa kembali ke Indonesia. Saya belajar bahwa sustainability membutuhkan kolaborasi antara pengetahuan, aksi, inovasi, dan entrepreneurship,” ujar Paundra Hanutama.

Menurutnya, pendidikan merupakan salah satu instrumen penting untuk memperkuat gerakan lingkungan. Pengetahuan tidak berhenti sebagai teori, tetapi harus mampu melahirkan individu yang memiliki kapasitas untuk menciptakan solusi.

BACA JUGA :  Riezka Rahmatiana Turun Langsung di Sembalun, Turut Mensukseskan Swasembada Bawang Putih

Karena itu, ia ingin mengembangkan program yang tidak hanya berorientasi pada penanaman mangrove, tetapi juga membangun pengetahuan, kapasitas, dan peluang bagi masyarakat serta generasi muda.

Menghubungkan Konservasi dan Ekonomi

Perjalanan akademik Paundra juga berlanjut pada jenjang doktoral. Sejak 2025, ia tengah menempuh program Doctor of Management (Entrepreneurship) di Universitas Ciputra, Surabaya.

Riset yang dikembangkan berfokus pada innovation, entrepreneurial orientation, and market acceptance of mangrove-based products, dengan perhatian pada sustainability, SME resilience, dan ecosystem strategy.

Fokus tersebut berangkat dari satu kebutuhan penting: bagaimana konservasi mangrove dapat berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi masyarakat pesisir.

Menurut Paundra, produk berbasis mangrove memiliki peluang untuk menjadi bagian dari ekonomi berkelanjutan apabila dikembangkan dengan memperhatikan keseimbangan antara aspek ekologis, kebutuhan pasar, inovasi, dan daya tahan pelaku usaha.

Melalui penelitian tersebut, ia ingin memperkuat pemahaman mengenai bagaimana konservasi, inovasi, kewirausahaan, dan ketahanan UMKM dapat dibangun dalam satu ekosistem yang terintegrasi.

Pendekatan ini menunjukkan pergeseran paradigma dalam konservasi. Pelestarian lingkungan tidak lagi semata-mata ditempatkan sebagai agenda ekologis, tetapi juga sebagai peluang untuk menciptakan nilai sosial dan ekonomi bagi masyarakat.

Empat Pilar Mangrove Jakarta

Setelah kembali dari Paris, Paundra akan terus memperkuat Mangrove Jakarta dengan empat fokus utama: konservasi, edukasi, young people empowerment, dan sustainable entrepreneurship.

Melalui empat pilar tersebut, ia ingin menciptakan lebih banyak ruang bagi generasi muda untuk belajar melalui pengalaman langsung. Mulai dari penanaman mangrove, edukasi lingkungan, fellowship, penelitian, kampanye, hingga pengembangan produk berbasis mangrove.

“Saya tidak ingin anak muda hanya menjadi peserta dalam kegiatan lingkungan. Saya ingin mereka menjadi bagian dari proses, belajar, menciptakan inovasi, membangun entrepreneurship, dan pada akhirnya menjadi pemimpin yang mampu membawa isu lingkungan ke level yang lebih besar,” ungkapnya.

BACA JUGA :  PLN Corner Menyapa Pengunjung Festival Musik Lapanada 2026 Melalui Ruang Konsultasi Interaktif

Bagi Paundra, masa depan konservasi sangat bergantung pada kemampuan generasi muda dalam menggabungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan inovasi dan kemampuan menciptakan peluang.

Inilah yang kemudian menjadi bagian penting dari visinya: membangun gerakan konservasi yang tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi.

Menanam Mangrove, Menanam Pengetahuan

Dengan gelar master keduanya, pengalaman akademik internasional, jejaring dari 14 negara, serta perjalanan doktoral yang masih berlangsung, Paundra memasuki fase baru dalam kiprahnya di Indonesia.

Pengalaman tersebut menjadi modal untuk memperkuat berbagai inisiatif melalui Mangrove Jakarta, dengan pendekatan yang menghubungkan konservasi, pendidikan, pemberdayaan, inovasi, dan kewirausahaan.

“Bagi saya, kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi di Paris adalah bagian dari komitmen untuk mengabdikan ilmu yang saya miliki. Saya ingin terus menanam mangrove, tetapi pada saat yang sama juga menanam pengetahuan, menanam keberanian untuk berinovasi, dan menanam semangat entrepreneurship di kalangan anak muda Indonesia,” tutup Paundra.

Perjalanan Paundra memperlihatkan bahwa pendidikan global tidak harus berujung pada orientasi untuk berkarier di luar negeri. Sebaliknya, pengalaman dan jejaring internasional dapat menjadi modal untuk kembali, membangun ekosistem, dan menciptakan dampak di tanah air.

Pada akhirnya, konservasi bukan hanya tentang apa yang ditanam hari ini, tetapi juga tentang pengetahuan, kapasitas, dan generasi baru yang dipersiapkan untuk menjaga keberlanjutan di masa depan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *