CSRINDONESIANEWS – Upaya menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir kembali diwujudkan melalui kolaborasi Mangrove Jakarta Impact dan Digital Edge Indonesia. Berlangsung di Pulau Tidung, Jakarta, kegiatan konservasi yang memasuki pelaksanaan keempat ini menghadirkan pendekatan terpadu melalui penanaman mangrove, restorasi terumbu karang, pelepasan ikan, hingga aksi pembersihan pantai atau Beach Cleanup Day.
Rangkaian kegiatan tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi lintas pihak dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kelestarian lingkungan laut. Dalam pelaksanaannya, program ini menargetkan penanaman 5.000 bibit mangrove dan 500 terumbu karang. Sementara itu, aksi pembersihan pantai berhasil mengumpulkan sekitar 300 kilogram sampah.

Menghubungkan Tiga Ekosistem Pesisir
Konservasi di Pulau Tidung dirancang untuk mengintegrasikan tiga elemen penting dalam keberlanjutan wilayah pesisir, yakni mangrove, terumbu karang, dan kawasan pantai yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Penanaman mangrove diarahkan untuk mendukung pemulihan vegetasi pesisir, sedangkan restorasi terumbu karang berperan dalam upaya menjaga habitat dan keanekaragaman hayati laut. Pelepasan ikan turut melengkapi rangkaian kegiatan sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan ekosistem perairan.
Di sisi lain, Beach Cleanup Day memberikan pengalaman langsung kepada peserta mengenai dampak sampah terhadap lingkungan pantai dan biota laut. Pendekatan tersebut memperluas perspektif konservasi, dari sekadar penanaman hingga pemahaman mengenai keterkaitan antara kesehatan ekosistem darat, pesisir, dan laut.
Founder Mangrove Jakarta Impact, Paundra Hanutama, menilai kesinambungan menjadi aspek penting dalam membangun dampak konservasi yang lebih luas. Menurutnya, kegiatan lingkungan perlu melampaui agenda seremonial dengan menghadirkan edukasi dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.
“Kegiatan keempat bersama Digital Edge Indonesia ini menunjukkan bahwa konservasi membutuhkan komitmen dan kesinambungan. Kita tidak hanya berbicara tentang menanam 5.000 mangrove atau 500 terumbu karang, tetapi juga bagaimana memastikan setiap aksi memiliki nilai edukasi dan membangun kepedulian masyarakat.”
Paundra menambahkan, keterlibatan perusahaan, komunitas, dan masyarakat merupakan bagian penting dalam memperkuat dampak program. Ia juga menekankan perlunya edukasi, pemantauan, serta tanggung jawab bersama agar manfaat kegiatan konservasi dapat terus dikembangkan.
Keberlanjutan sebagai Bagian dari Kolaborasi Bisnis
Dari perspektif keberlanjutan perusahaan, kolaborasi ini menggambarkan upaya menghubungkan kontribusi dunia usaha dengan kebutuhan ekosistem dan masyarakat pesisir. Keterlibatan perusahaan tidak hanya diwujudkan melalui dukungan program, tetapi juga melalui partisipasi langsung dalam aktivitas lingkungan.
Chief Sustainability Officer Digital Edge Indonesia, Andrew Rigoli, menyampaikan bahwa keberlanjutan perlu dibangun melalui tindakan nyata dan kemitraan jangka panjang.
“Sustainability is about taking meaningful action and building long-term partnerships that create positive impact. Through our continued collaboration with Mangrove Jakarta Impact, we aim to support the protection of coastal ecosystems while encouraging our people and partners to participate in environmental initiatives.”
Menurut Andrew, pelaksanaan kegiatan keempat tersebut mencerminkan komitmen Digital Edge Indonesia untuk menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari keterlibatan perusahaan bersama masyarakat dan lingkungan.
Kolaborasi yang berkesinambungan juga membuka ruang untuk mengidentifikasi kebutuhan konservasi, mengevaluasi dampak kegiatan, serta mengembangkan inisiatif yang relevan dengan kondisi kawasan pesisir.

Beach Cleanup Day dan Tantangan Sampah Pesisir
Aksi Beach Cleanup Day menjadi salah satu komponen utama dalam rangkaian konservasi di Pulau Tidung. Melalui kegiatan pembersihan pantai, peserta bersama pihak terkait berhasil mengumpulkan sekitar 300 kilogram sampah.
Capaian tersebut memperlihatkan pentingnya penanganan sampah pesisir secara konsisten. Sampah yang menumpuk di kawasan pantai berpotensi memengaruhi kualitas lingkungan dan mengganggu kehidupan biota laut apabila tidak dikelola dengan baik.
Selain menghasilkan dampak langsung berupa pembersihan kawasan, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi peserta mengenai pengelolaan sampah dan perilaku yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Upaya tersebut perlu didukung dengan program berkelanjutan yang mencakup pengurangan sampah, pemantauan, dan peningkatan kesadaran masyarakat.
Menjaga Konsistensi Aksi Konservasi
Memasuki pelaksanaan keempat, kolaborasi Mangrove Jakarta Impact dan Digital Edge Indonesia menunjukkan keberlanjutan inisiatif konservasi di Pulau Tidung. Penanaman mangrove, restorasi terumbu karang, pelepasan ikan, dan pengumpulan sampah menjadi bagian dari pendekatan yang menggabungkan pemulihan ekosistem dengan edukasi lingkungan.
Target 5.000 bibit mangrove dan 500 terumbu karang serta pengumpulan sekitar 300 kilogram sampah menjadi capaian yang perlu ditempatkan dalam kerangka pemeliharaan dan pemantauan jangka panjang. Keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh pelaksanaan penanaman atau pembersihan, tetapi juga oleh kondisi ekosistem setelah kegiatan berlangsung.
Melalui kerja sama antara perusahaan, komunitas, dan masyarakat, program konservasi diharapkan dapat terus dikembangkan secara terarah sesuai kebutuhan kawasan. Lebih dari sekadar kegiatan lingkungan, kesinambungan program menjadi fondasi dalam membangun kepedulian dan tanggung jawab bersama terhadap masa depan ekosistem pesisir. (*)











