BeritaLingkungan

Ketika Api Belum Padam, Kepedulian Tetap Menyala: CSR GunaRita Dukung Penanganan Karhutla di Kubu Raya

5
×

Ketika Api Belum Padam, Kepedulian Tetap Menyala: CSR GunaRita Dukung Penanganan Karhutla di Kubu Raya

Sebarkan artikel ini
Di tengah kepulan asap dan lahan yang masih membutuhkan penanganan, ada mereka yang tetap berada di lapangan. Para petugas dan relawan berjibaku melakukan pemadaman, pendinginan, sekaligus menjaga agar api tidak kembali menjalar.

CSRINDONESIANEWS – Di tengah kepulan asap yang menyelimuti kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan, perjuangan para petugas dan relawan terus berlangsung. Mereka berjibaku memadamkan api, melakukan pendinginan, serta memastikan kobaran tidak kembali menjalar ke wilayah lain.

Namun, penanganan kebakaran tidak hanya membutuhkan personel dan peralatan. Mereka yang berada di garis depan juga memerlukan perlindungan, asupan energi, serta dukungan kesehatan untuk tetap mampu menjalankan tugas dalam situasi yang penuh risiko.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, CSR GunaRita melalui Relawan Nusantara turut ambil bagian dalam respons penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, pada 4 September 2026.

Dukungan ini ditujukan bagi para relawan yang terlibat langsung dalam penanganan karhutla, sekaligus membantu masyarakat yang terdampak oleh kondisi asap di sekitar lokasi kebakaran.

 

Menopang Para Pejuang di Garis Depan

Dalam aksi kemanusiaan tersebut, CSR GunaRita menyalurkan sejumlah kebutuhan pendukung kesehatan, mulai dari masker, Pemberian Makanan Tambahan (PMT), vitamin, hingga suplemen.

Di tengah kualitas udara yang menurun akibat asap, masker menjadi salah satu perlengkapan penting bagi masyarakat maupun petugas yang masih beraktivitas di sekitar wilayah terdampak. Sementara itu, makanan tambahan, vitamin, dan suplemen diharapkan dapat membantu menjaga kondisi fisik serta stamina para relawan dan petugas selama menjalankan tugas.

Bagi mereka yang telah berhari-hari berada di lapangan, dukungan sederhana dapat memiliki arti yang jauh lebih besar.

Sebab, ketika api belum sepenuhnya padam, pekerjaan belum benar-benar selesai.

Para petugas dan relawan harus terus bergerak dari satu titik ke titik lainnya, melakukan pemadaman, pendinginan, dan pengawasan untuk memastikan api tidak kembali muncul. Di saat yang sama, masyarakat sekitar juga harus menghadapi dampak lain dari karhutla, terutama menurunnya kualitas udara akibat sebaran asap.

BACA JUGA :  DMC Dompet Dhuafa dan Relawan Gabungan Bantu Padamkan Karhutla Kalteng

 

Karhutla Kalimantan Barat Masih Menjadi Perhatian

Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat masih menjadi perhatian serius hingga September 2026.

Pada 4 September, BNPB melaporkan bahwa dari 166 titik panas atau hotspot yang terdeteksi BMKG di Kalimantan Barat, sebanyak 61 titik telah terverifikasi sebagai lokasi kebakaran setelah dilakukan pengecekan di lapangan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa data titik panas dari pemantauan satelit tetap membutuhkan verifikasi untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan.

Perkembangan selanjutnya pun menunjukkan bahwa ancaman karhutla belum sepenuhnya berakhir.

Berdasarkan pemantauan BMKG selama 10 hari terakhir hingga 10 September 2026, Kalimantan Barat tercatat memiliki 2.102 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi kedua setelah Kalimantan Tengah dalam periode pemantauan tersebut.

BMKG juga mengingatkan bahwa sebaran asap masih bertahan di tengah kondisi musim kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat bahkan memperpanjang Status Tanggap Darurat Bencana Asap akibat karhutla hingga 20 September 2026, seiring operasi penanganan dan pendinginan yang terus dilakukan oleh satuan tugas melalui jalur darat maupun udara.

Situasi ini menegaskan bahwa meski sejumlah titik api telah berhasil dikendalikan, proses penanganan belum benar-benar berakhir.

 

Kubu Raya dan Tantangan Lahan Gambut

Kabupaten Kubu Raya menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan karhutla di Kalimantan Barat.

Karakteristik lahan gambut menghadirkan tantangan tersendiri. Api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi dapat bertahan dan menjalar di bawah lapisan tanah.

Karena itu, proses pemadaman tidak berhenti ketika kobaran api yang terlihat berhasil dipadamkan.

Pendinginan dan pembasahan lahan tetap harus dilakukan secara intensif untuk mencegah api kembali muncul. Penanganan di wilayah gambut membutuhkan ketelitian dan waktu yang lebih panjang karena bara dapat bertahan di bawah permukaan.

BACA JUGA :  Gubernur Kalteng Bagikan Masker dan Dorong Penguatan Penanganan Dampak Karhutla

Pemerintah bersama berbagai unsur terus memperkuat operasi penanganan di lapangan. Pada awal September, operasi darat dan udara dilakukan secara intensif, termasuk melalui dukungan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu membasahi wilayah gambut yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran.

BMKG mencatat pelaksanaan OMC untuk mendukung penanganan karhutla di Kalimantan Barat pada periode 5–14 September 2026.

Di tengah upaya besar tersebut, dukungan dari berbagai elemen menjadi bagian penting dalam memperkuat respons terhadap bencana.

 

CSR GunaRita dan Semangat Kolaborasi Kemanusiaan

Bagi CSR GunaRita, kepedulian terhadap bencana tidak hanya dimaknai sebagai respons ketika api membesar atau situasi mencapai titik darurat.

Kepedulian juga berarti memastikan masyarakat terdampak serta para petugas dan relawan di garis depan memperoleh dukungan terhadap kebutuhan dasar selama proses penanganan berlangsung.

Melalui Relawan Nusantara, bantuan kesehatan dan logistik tersebut disalurkan langsung untuk mendukung respons karhutla di Kubu Raya.

Kolaborasi ini menjadi gambaran penting bahwa penanganan bencana membutuhkan kerja bersama.

Pemerintah, petugas pemadam, relawan, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai elemen lainnya memiliki peran masing-masing dalam menghadapi situasi darurat.

Ketika satu pihak berjuang memadamkan api, pihak lain dapat mengambil peran dengan memastikan para pejuang di lapangan tetap memiliki perlindungan dan tenaga untuk melanjutkan tugas.

Dalam situasi bencana, kepedulian tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang besar.

Ia dapat hadir melalui sebungkus makanan, sebotol vitamin, suplemen, atau masker yang membantu seseorang tetap bertahan menjalankan tugasnya.

Dari dukungan-ddukungan sederhana itulah, respons kemanusiaan terus bergerak dan memperkuat satu sama lain.

Sebab ketika api masih terus diperjuangkan untuk dipadamkan, kepedulian pun harus tetap dinyalakan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *