CSRINDONESIANEWS — Musik memiliki cara tersendiri untuk menyatukan manusia. Begitu pula dengan makanan yang kerap menjadi medium untuk berbagi cerita dan kehangatan. Di Makassar, dua unsur tersebut berpadu dalam satu gerakan kemanusiaan bertajuk Sound of Humanity for NTT.
Digelar oleh Dompet Dhuafa Sulawesi Selatan bersama Trek Coffee, kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 4 September 2026, menjadi ruang perjumpaan antara kreativitas dan kepedulian. Masyarakat, musisi, komunitas, hingga pelaku kuliner hadir dengan satu tujuan yang sama: menggalang dukungan bagi masyarakat terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur.
Diinisiasi Dompet Dhuafa Sulsel melalui DDTV, Sound of Humanity menghadirkan beragam aktivitas penggalangan dana. Mulai dari cooking demo, lelang makanan, lelang lagu, hingga pelelangan kaus bertanda tangan musisi Fadly Padi.

Salah satu momen yang menarik perhatian datang dari finalis MasterChef Indonesia, La Ode Saiful Rahman. Melalui sesi cooking demo, Chef La Ode memperkenalkan olahan tuna asap yang dikembangkan melalui produknya, Tuna Mr. Panas.
Berbeda dengan metode pengasapan tradisional, tuna tersebut diolah menggunakan teknik smoker dengan pengaturan suhu dan temperatur yang lebih terukur.
“Jadi, saya bawa tuna asap yang saya bikin sendiri,” ujar Chef La Ode.
Tuna asap itu kemudian diolah menjadi sajian sandwich cholo-cholo tuna asap dengan sentuhan modern. Menu yang dibuat secara terbatas tersebut selanjutnya dilelang kepada para pengunjung sebagai bagian dari aksi penggalangan dana.
Satu porsi sandwich berhasil terjual dengan nilai Rp1,1 juta. Nilai tersebut bukan sekadar harga sebuah sajian, melainkan simbol kepedulian yang kemudian menjadi bagian dari donasi untuk masyarakat terdampak gempa di NTT.
“Ini bukan hanya sekadar makanan, tapi juga salah satu bentuk berbagi untuk saudara-saudara kita yang ada di NTT,” kata Chef La Ode.
Musik yang Menggerakkan Kepedulian
Suasana semakin hangat ketika Fadly Padi tampil membawakan sejumlah lagu. Namun, penampilannya kali ini tidak hanya menjadi hiburan bagi pengunjung.
Musik menjadi bagian dari mekanisme penggalangan dana melalui konsep lelang lagu. Pengunjung diberi kesempatan untuk memberikan penawaran terhadap lagu yang ingin mereka dengarkan. Lagu dengan nilai penawaran tertinggi kemudian menjadi pilihan yang dibawakan oleh Fadly.
Tak hanya itu, sebuah kaus bertanda tangan Fadly turut dilelang sebagai bagian dari aksi kemanusiaan.
Bagi Fadly, kehadiran musisi dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap gerakan yang lebih besar dari sekadar sebuah pertunjukan.
“Yang paling esensial adalah silaturahmi kita dan empati kita untuk saudara-saudara kita di NTT,” ujar Fadly.
Ia berharap masyarakat NTT dapat segera bangkit dan kembali menjalani kehidupan setelah menghadapi dampak bencana.
“Harapannya NTT, saudara-saudara di NTT terus semangat. Kita semua bersaudara, kita semua siap saling membantu,” tuturnya.
Lebih dari Sekadar Konser
Pelaksana Tugas Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Sulsel, Nurhasnaini Hasan, menegaskan bahwa Sound of Humanity dirancang bukan hanya sebagai panggung hiburan, melainkan sebagai ruang partisipasi publik dalam aksi kemanusiaan.
“Sound of Humanity bukan sekadar konser musik biasa. Ini adalah sebuah gerakan,” kata Nurhasnaini.
Menurutnya, musik memiliki kekuatan untuk mempertemukan berbagai kalangan dalam satu ruang kepedulian. Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diajak untuk berkontribusi dengan cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, baik melalui musik, kuliner, maupun bentuk dukungan lainnya.
Dari seluruh rangkaian kegiatan, donasi sementara yang berhasil dihimpun mencapai Rp41.493.676.
Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung berbagai program penanganan bencana di NTT, termasuk penyediaan dapur umum, layanan kesehatan, akses air bersih, hingga program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Sound of Humanity for NTT sendiri merupakan hasil kolaborasi Dompet Dhuafa Sulsel bersama komunitas musisi Makassar Alternative Nation (MAN) serta Trek Coffee sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan.
Melalui musik yang dimainkan, makanan yang disajikan, dan kontribusi yang diberikan para pengunjung, kegiatan ini menghadirkan pesan sederhana tentang arti kebersamaan.
Bahwa di tengah jarak dan perbedaan, kepedulian tetap dapat menemukan jalannya.
Dan dari sebuah panggung kecil di Makassar, solidaritas untuk NTT kembali disuarakan—melalui nada, rasa, dan harapan agar masyarakat yang terdampak bencana dapat segera bangkit dan melanjutkan kehidupan. (*)












