Image default
CSR Update

CSR Dunia Usaha Dukung Gotong Royong Warga Perbaiki Akses Jalan di Klungkung

Semangat gotong royong masyarakat kembali menjadi kekuatan dalam menghadapi kebutuhan pembangunan infrastruktur di Dusun Sukahati, Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Klungkung, Bali. Setelah jalan desa amblas akibat hujan deras pada 27 Juli 2026, warga bersama pemerintah desa bergerak melakukan perbaikan secara swadaya untuk memulihkan akses utama masyarakat. Jalan tersebut merupakan akses penting bagi warga dan kerusakannya sempat membuat sekitar 21 kepala keluarga terisolasi. Di tengah keterbatasan anggaran pembangunan desa, dukungan dari dunia usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) menjadi salah satu alternatif untuk mempercepat perbaikan infrastruktur masyarakat. Inisiatif ini menunjukkan bahwa CSR dapat mengambil peran strategis ketika perusahaan hadir bersama masyarakat untuk menjawab kebutuhan yang bersifat mendesak.

Perbaikan jalan dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, unsur keamanan, mahasiswa KKN, serta pihak-pihak yang memberikan dukungan. Pemerintah Desa Pesinggahan sebelumnya menyampaikan bahwa Dana Desa mengalami pengurangan sekitar Rp558 juta, dari Rp926 juta pada 2025, sehingga ruang untuk pembangunan fisik menjadi lebih terbatas. Kondisi tersebut mendorong pemerintah desa dan masyarakat mencari solusi bersama, termasuk menggalang dukungan CSR dari para pengusaha yang berada di wilayah Pesinggahan. Kehadiran sektor usaha dalam situasi seperti ini dapat menjadi bentuk tanggung jawab sosial yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Lebih dari sekadar bantuan, kolaborasi tersebut memperlihatkan bagaimana CSR dapat memperkuat semangat kemandirian dan gotong royong yang telah tumbuh di masyarakat.

Perbekel Desa Pesinggahan, Nyoman Suastika, mengatakan bahwa kondisi jalan yang rusak membutuhkan penanganan segera karena menjadi akses utama bagi warga Dusun Sukahati. “Sekitar 21 Kepala Keluarga (KK) terisolir dan butuh perbaikan segera,” ujar Suastika. Ia menjelaskan bahwa karena jalan tersebut berstatus nonstatus, pemerintah desa bersama masyarakat kemudian mengambil inisiatif untuk memperbaikinya secara gotong royong. Pemerintah desa juga membuka ruang bagi dukungan CSR dari pengusaha di wilayah Pesinggahan untuk membantu memenuhi kebutuhan perbaikan jalan tersebut. Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak menjadi penting agar akses masyarakat dapat kembali berfungsi dan aktivitas warga dapat berjalan normal.

Dari perspektif CSR, kebutuhan masyarakat seperti perbaikan akses jalan menunjukkan bahwa kontribusi perusahaan dapat diarahkan pada persoalan yang memiliki dampak langsung terhadap kualitas hidup masyarakat. Dukungan terhadap infrastruktur dasar tidak hanya membantu memperbaiki fasilitas fisik, tetapi juga dapat mendukung mobilitas warga, akses ekonomi, pendidikan, serta aktivitas sosial masyarakat. Dalam konteks ini, CSR menjadi jembatan antara kapasitas dunia usaha dan kebutuhan masyarakat di tingkat lokal. Program yang lahir dari kebutuhan nyata juga memiliki peluang lebih besar untuk menciptakan dampak yang relevan dan dirasakan langsung oleh penerima manfaat. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, dan dunia usaha perlu dibangun berdasarkan kebutuhan, transparansi, dan keberlanjutan.

Semangat gotong royong menjadi nilai penting dalam proses perbaikan jalan di Dusun Sukahati. Warga tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembangunan bersama pemerintah desa dan berbagai pihak yang memberikan dukungan. Pendekatan partisipatif tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan program CSR akan semakin kuat ketika masyarakat menjadi bagian dari proses, mulai dari identifikasi kebutuhan hingga pelaksanaan kegiatan. Pemerintah desa juga mengapresiasi berbagai pihak yang turut membantu dan berharap semangat gotong royong tetap terjaga di tengah keterbatasan anggaran pembangunan. Model kolaborasi seperti ini dapat menjadi contoh bahwa CSR tidak harus selalu berbentuk program berskala besar, tetapi dapat dimulai dari kebutuhan konkret yang memberikan dampak langsung bagi komunitas.

Melalui kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan dunia usaha, perbaikan akses jalan di Dusun Sukahati diharapkan dapat segera diselesaikan dan memberikan kembali akses yang aman bagi warga. Perbaikan secara swadaya tersebut direncanakan berlangsung sekitar dua minggu, dengan tahapan pembangunan pondasi dan pengerjaan lanjutan untuk memastikan struktur jalan lebih kuat. Kisah ini menjadi pengingat bahwa CSR memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi dalam menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya ketika dilakukan berdasarkan kondisi dan prioritas lokal. Bagi dunia usaha, keterlibatan dalam perbaikan infrastruktur masyarakat juga merupakan bentuk nyata membangun hubungan yang positif dengan komunitas di sekitar wilayah operasionalnya. Pada akhirnya, CSR bukan hanya tentang memberikan bantuan, tetapi tentang membangun kolaborasi yang mampu menciptakan manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Related posts

PT Gemilang Bina Lintas Tirta Tanam Mangrove Bersama Mangrove Jakarta dalam Aksi CSR Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia

editorcsr

Bali Tak Akan Gelap Lagi: Dua Putra Bali Satukan Kekuatan Dukung Bali Mandiri Energi

editorcsr

AAJI Peduli Bumi, Wujud Komitmen Industri Asuransi Jiwa Menjaga Lingkungan AAJI Tanam 2000 Bibit Mangrove dan Berikan Literasi Keuangan Pada Kelompok Nelayan

editorcsr

Leave a Comment