CSRINDONESIANEWS – Rabu, 7 Oktober 2026, genap tiga tahun sejak babak genosida yang kembali merenggut begitu banyak nyawa di Gaza. Tiga tahun bukan tentu sekadar angka. Ada rumah yang berubah menjadi puing, keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta, anak-anak yang tumbuh di tengah ketakutan, serta jutaan manusia yang terus berjuang mempertahankan hidup dan harapan.
Namun, penderitaan Palestina tidak dimulai tiga tahun lalu. Sejak Nakba 1948, penindasan dan perampasan hak rakyat Palestina telah berlangsung begitu panjang.
“Bagi jutaan masyarakat di Gaza, tiga tahun adalah 1.095 hari yang penuh tangisan, ketakutan dan kehilangan yang tak pernah usai. Sejak serangan kependudukan dan genosida dimulai tiga tahun lalu ruang hidup warga Gaza terus dipersempit. Hunian dirobohkan menjadi puing, sekolah dan rumah sakit dihancurkan. Serta suara ledakan yang menjadi ‘pengantar tidur’ bagi anak-anak Gaza yang tidak berdosa. Sampai hari ini, lebih dari 70.000 jiwa gugur, ibu-ibu kehilangan anak, anak kehilangan ibunya, keluarga berpisah dalam sekejap mata. Jutaan lainnya harus hidup dengan luka ditubuh dan trauma yang mendalam di jiwa”, ujar Ahmad Juwaini selalu Ketua Pengurus Dompet Dhuafa..

Ahmad Juwaini lanjut mengatakan, “Sejak dideklarasikan berdirinya negara Israel, dikenal peristiwa nakba 1948, pembantaian-pembantaian terus berlanjut hingga kini. Maka atas dasar itu suara kemanusiaan terus bergema lebih keras. Kepada Israel, pesan dunia sangat jelas dan tegas. Hentikan penderitaan ini, hentikan genosida, segera tinggalkan Gaza, dan seluruh tanah Palestina yang diduduki. Biarkan rakyat Palestina hidup dengan tenang di tanah mereka sendiri tanpa ketakutan dan penderitaan”..
“Kepada masyarakat seluruh dunia, khususnya masyarkat Indonesia, kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Palestina bukan hanya isu politik dan agama, tetapi ini adalah ujian bagi Nurani kita sebagai sesama manusia. Mari berdiri tegak bersama Palestina, jangan biarkan suara dukungan kita padam. Mari terus gaungkan kemerdekaan untuk Palestina”, tambah Ahmad Juwaini.
Dompet Dhuafa terus bergerak memberikan bantuan dan dorongan moril bagi warga Palestina, baik berupa layanan kesehatan yang terdiri rehabilitasi medis dasar untuk memulihkan kondisi fisik korban luka di Jalur Gaza., lalu pengadaan klinik mobil (mobile clinic) dengan memberikan layanan kesehatan keliling yang telah menjangkau ribuan penerima manfaat. Serta dukungan fasilitas medis dengan menyediakan armada ambulans yang sampai hari ini masih aktif melayani para masyarakat Gaza, obat-obatan dasar serta shelter kesehatan darurat.

Dompet Dhuafa juga mendorong pemenuhan gizi bagi masyarakat Palestina dengan program, foodbank dan layanan dapur umum dengan menghadirkan paket makanan siap saji harian (termasuk program khusus seperti Iftar & Suhoor For Palestine) untuk pengungsi di wilayah seperti Jabalya dan Tofah. Selain itu pada masa kurban, juga menggulirkan sedekah daging Palestina dengan penyaluran bantuan gizi dalam bentuk daging olahan kemasan kaleng yang praktis, siap saji, dan tahan lama
Dompet Dhuafa juga menggulirkan pengadaan sanitasi air bersih dengan layanan distribusi air bersih tersalurkan puluhan ribu liter air bersih menggunakan tangki air untuk mengatasi krisis sanitasi di kamp-kamp pengungsian Gaza.
Hingga Dompet Dhuafa gulirkan program pendidikan, hadirkan Beasiswa Santri Tahfizh sebagai dukungan berkelanjutan untuk pendidikan keagamaan anak-anak Palestina. Serta konsep “Kampung Indonesia” (Indonesia Zone): Rencana jangka panjang yang sedang dipersiapkan untuk mendukung pemulihan dan keberlangsungan hidup masyarakat Palestina secara semi-permanen.
Saat ini masyarakat di Gaza sangat membutuhkan bantuan dari kita, baik berupa makanan, obat-obatan, air bersih, tempat tinggal dan sarana umum lainnya khususnya rumah sakit. Bantuan sekecil apapun yang kita kirimkan, adalah penopang hidup bagi mereka yang sedang berjuang. Mari bantu sekarang, bantuan kita menyalakan harapan mereka. (*)












