CSRINDONESIANEWS – Memberdayakan perempuan berarti membuka jalan bagi keluarga dan masyarakat untuk tumbuh bersama. Berangkat dari semangat tersebut, PT Pertamina Patra Niaga menghadirkan berbagai program Corporate Social Responsibility (CSR) yang berfokus pada pengembangan potensi lokal dan peningkatan kemandirian perempuan.
Komitmen itu diwujudkan melalui tiga program unggulan, yakni PUANMAKARI yang dikembangkan Integrated Terminal (IT) Makassar, Posyandu Aster oleh IT Pontianak, serta Mina Tenun yang dijalankan Avtur Fuel Terminal (AFT) BIL di Lombok Tengah.
Ketiganya hadir dengan pendekatan berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama: menciptakan ruang bagi perempuan untuk mengembangkan keterampilan, memperkuat kemandirian ekonomi, serta berperan aktif dalam pembangunan masyarakat.
PUANMAKARI: Membangun Kemandirian Perempuan dan Anak
Di Makassar, program PUANMAKARI atau Perempuan Mandiri Anak Percaya Diri hadir sebagai pusat pemberdayaan sekaligus perlindungan bagi perempuan dan anak.
Program ini mengintegrasikan berbagai kegiatan, mulai dari kelas pengasuhan anak (parenting), pendidikan anak, kelompok belajar perempuan, pelatihan kewirausahaan, hingga pendampingan hukum.
Melalui pendekatan tersebut, PUANMAKARI berupaya menciptakan lingkungan yang mendukung perempuan dan anak untuk tumbuh dengan lebih baik.
Hingga saat ini, program tersebut telah menjangkau 57 anak, 18 perempuan, 14 warga fakir miskin, dan 11 lansia.
Tak hanya berfokus pada aspek sosial, PUANMAKARI juga mendorong kemandirian ekonomi masyarakat melalui pengembangan usaha pengolahan hasil laut yang diwujudkan dalam Dapur Perlawanan.
Inisiatif ini menjadi salah satu upaya untuk mengoptimalkan potensi lokal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Posyandu Aster: Dari Layanan Kesehatan Menuju Pemberdayaan Ekonomi
Di Pontianak, Posyandu Aster dikembangkan dengan pendekatan yang lebih luas. Tidak hanya menjadi pusat layanan kesehatan masyarakat, posyandu ini juga berfungsi sebagai ruang edukasi, pengembangan kepedulian lingkungan, dan kewirausahaan sosial.
Melalui CV Aster Kulina Prima, masyarakat, khususnya perempuan, memperoleh kesempatan untuk mengembangkan usaha produktif.
Unit usaha tersebut mencatat omzet sekitar Rp2 juta hingga Rp3,5 juta per bulan. Pendapatan yang dihasilkan dimanfaatkan untuk mendukung operasional posyandu sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Ketua Posyandu Aster, Nurul Azizah Novihayati, menegaskan bahwa perempuan membutuhkan ruang yang memungkinkan mereka berkembang dan mengambil peran lebih besar di lingkungannya.
“Perempuan tidak hanya perlu dijaga kesehatannya, tetapi juga perlu diberi ruang untuk tumbuh, belajar, mengambil keputusan, dan berdaya. Karena perempuan yang berdaya akan menjadi penggerak bagi keluarganya dan lingkungannya,” ujar Nurul.
Pernyataan tersebut mencerminkan pentingnya pendekatan pemberdayaan yang tidak hanya berorientasi pada layanan dasar, tetapi juga memberikan kesempatan bagi perempuan untuk membangun kemandirian.
Mina Tenun: Merawat Tradisi, Menghadirkan Energi Bersih
Sementara itu, di Lombok Tengah, program Mina Tenun memadukan pemberdayaan perempuan penenun dengan pelestarian budaya lokal dan pemanfaatan energi bersih.
Berjalan sejak 2022, program ini menjadi wadah bagi perempuan untuk mempertahankan keterampilan menenun sekaligus mengembangkan potensi ekonomi berbasis tradisi.
Pada 2026, Mina Tenun dikembangkan melalui modifikasi Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk mendukung pompa dan penyediaan air bersih bagi masyarakat.
Pengembangan tersebut memperlihatkan bagaimana inovasi dapat diintegrasikan dengan kearifan lokal untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas.
Melalui pendekatan ini, pemberdayaan perempuan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kapasitas ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek pelestarian budaya dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Mendorong Perempuan Menjadi Penggerak Perubahan
VP Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, mengatakan pemberdayaan perempuan merupakan bagian penting dari upaya perusahaan dalam membangun masyarakat yang mandiri dan tangguh.
“Pertamina Patra Niaga meyakini bahwa perempuan memiliki peran penting sebagai penggerak keluarga dan masyarakat. Karena itu, pemberdayaan perempuan perlu diwujudkan dengan membuka ruang untuk belajar, mengembangkan keterampilan, mengambil keputusan, dan membangun kemandirian ekonomi,” ujar Kitty.
Menurutnya, ketiga program tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat dikembangkan sesuai dengan potensi dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Perusahaan juga berupaya memastikan program CSR tidak hanya berorientasi pada pemberian bantuan, tetapi mampu menciptakan ekosistem yang memungkinkan masyarakat terlibat secara aktif dalam proses pembangunan.
“Kami ingin program CSR Pertamina Patra Niaga tidak berhenti pada bantuan, tetapi berkembang menjadi ekosistem pemberdayaan yang membuat masyarakat menjadi pelaku utama. Ketika perempuan memiliki kesempatan untuk tumbuh dan mandiri, manfaatnya akan dirasakan oleh keluarga dan lingkungan di sekitarnya,” pungkasnya.
Melalui PUANMAKARI, Posyandu Aster, dan Mina Tenun, Pertamina Patra Niaga memperlihatkan bagaimana pemberdayaan perempuan dapat dikembangkan melalui pendekatan yang beragam, mulai dari pendidikan dan perlindungan sosial hingga kewirausahaan, pelestarian budaya, dan pemanfaatan energi bersih.
Pada akhirnya, perempuan yang memiliki kesempatan untuk tumbuh dan mandiri bukan hanya memperoleh manfaat bagi dirinya sendiri, tetapi juga berkontribusi dalam membangun keluarga dan masyarakat yang lebih tangguh. (*)












