CSRINDONESIANEWS – Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengatakan, revitalisasi Benteng Kuto Besak akan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai sumber pendanaan. Dukungan CSR yang telah berjalan, salah satunya berasal dari Perumda Tirta Musi, sementara Pemerintah Kota Palembang juga akan menambah dukungan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Revitalisasi ini dari dana CSR yang sudah sekarang dari PDAM, nanti juga akan ada support dana APBD dan untuk bantuan dari kementerian diberikan tahun depan,” ujar Ratu Dewa, Senin (14/9/2026).
Bastion 1 Didukung Dana CSR Perumda Tirta Musi
Pemerintah Kota Palembang optimistis dukungan dari berbagai pihak terhadap revitalisasi BKB akan terus bertambah. Kawasan bersejarah yang selama ini memiliki keterbatasan akses tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi ruang publik sekaligus destinasi wisata yang bisa dinikmati masyarakat luas.
Setelah puluhan tahun, akses masuk kawasan Benteng Kuto Besak mulai dibuka kembali bagi masyarakat Palembang, termasuk para budayawan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan kembali nilai sejarah dan budaya yang melekat pada kawasan tersebut.
“Alhamdulillah, setelah puluhan tahun akses masuk BKB dibuka untuk masyarakat Palembang, juga budayawan,” kata Ratu Dewa.
Dalam tahap awal revitalisasi, pemerintah kota juga tengah mematangkan Detail Engineering Design (DED) untuk Bastion 1 sesuai arahan pemerintah pusat. Penataan dilakukan dengan tetap mempertahankan bentuk serta karakter utama bangunan bersejarah tersebut.
Pembangunan Bastion 1 sendiri saat ini mendapat dukungan pembiayaan melalui program CSR Perumda Tirta Musi.
Targetnya, proses revitalisasi kawasan Benteng Kuto Besak dapat diselesaikan pada 2027 dan menghadirkan wajah baru kawasan bersejarah yang lebih terbuka, tertata, dan ramah bagi masyarakat maupun wisatawan.
Revitalisasi Dilakukan Bertahap
Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata Kota Palembang, Irman, menjelaskan bahwa revitalisasi Benteng Kuto Besak telah dilakukan secara bertahap sejak 2025 dengan menyesuaikan kemampuan keuangan daerah.
Pada tahap pertama, Pemerintah Kota Palembang mengalokasikan anggaran sebesar Rp5,6 miliar untuk membenahi kawasan pelataran Benteng Kuto Besak.
Secara keseluruhan, dalam dua tahun terakhir, anggaran yang dialokasikan untuk proses revitalisasi kawasan tersebut telah mendekati Rp10 miliar.
Menurut Irman, konsep revitalisasi memang sejak awal dirancang secara bertahap agar pelaksanaannya dapat disesuaikan dengan ketersediaan anggaran pemerintah daerah.
“Revitalisasi dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan dan ketersediaan anggaran,” ujarnya.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjaga keberlanjutan proyek tanpa mengabaikan kebutuhan utama dalam pelestarian kawasan bersejarah.
Anggaran 2026 Capai Rp4,3 Miliar
Pada 2026, Pemerintah Kota Palembang kembali mengalokasikan anggaran sebesar Rp4,3 miliar untuk melanjutkan penataan kawasan Benteng Kuto Besak.
Dengan tambahan anggaran tersebut, total dana revitalisasi Pelataran BKB dalam dua tahun terakhir mencapai sekitar Rp9,9 miliar atau hampir Rp10 miliar.
Pekerjaan tahap kedua mencakup pembongkaran panggung lama, pembangunan struktur baru di area bekas panggung, pengerasan lantai, hingga pemasangan lantai granit alam pada sebagian kawasan.
Selain itu, kawasan pelataran juga akan dilengkapi panggung baru yang berada di salah satu sudut dengan latar Jembatan Ampera, salah satu ikon paling terkenal di Kota Palembang.
Panggung tersebut dirancang memiliki luas yang hampir sama dengan panggung sebelumnya dan akan dilengkapi tulisan “Benteng Kuto Besak” sebagai penanda kawasan wisata.
Dengan revitalisasi yang terus berjalan dan dukungan dari berbagai pihak, Benteng Kuto Besak diharapkan tidak hanya kembali tampil sebagai simbol sejarah Palembang, tetapi juga berkembang menjadi ruang publik yang merepresentasikan pertemuan antara warisan budaya, pariwisata, dan kehidupan masyarakat modern. (*)











