CSRINDONESIANEWS – Forum CSR DKI Jakarta menyampaikan duka dan keprihatinan mendalam atas bencana yang menimpa masyarakat di Nusa Tenggara Timur. Dalam situasi darurat, kebutuhan terhadap bantuan pangan tidak hanya dituntut untuk tersedia dalam jumlah memadai, tetapi juga harus mampu menjangkau wilayah terdampak secara cepat dan tetap memenuhi kebutuhan nutrisi para korban.
“Kami menyampaikan rasa duka dan keprihatinan mendalam atas bencana yang menimpa masyarakat di Nusa Tenggara Timur,” ujar Ketua Forum CSR DKI Jakarta, Aldi Imam Wibowo, di Jakarta, Selasa.
Sebagai bagian dari respons kemanusiaan, Forum CSR DKI Jakarta turut mengapresiasi langkah nyata Toko Daging Nusantara yang mengirimkan bantuan pangan darurat berupa satu ton daging rendang siap santap (ready to eat) bagi masyarakat terdampak bencana.
Menurut Aldi, bantuan pangan siap santap menjadi sangat relevan dalam kondisi pascabencana. Pasalnya, para pengungsi kerap menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari terputusnya pasokan listrik, minimnya akses terhadap air bersih, rusaknya infrastruktur jalan, hingga keterbatasan fasilitas dan peralatan dapur umum.
Dalam kondisi seperti itu, inovasi pangan dengan teknologi retort dinilai dapat menjadi salah satu solusi strategis. Teknologi ini merupakan proses sterilisasi termal modern yang dilakukan pada makanan dalam kemasan kedap udara, sehingga produk dapat bertahan lebih lama tanpa memerlukan rantai pendingin.
Keunggulan tersebut memungkinkan pangan tetap higienis, praktis, dan mudah didistribusikan ke berbagai wilayah, termasuk daerah yang mengalami isolasi akibat bencana.
Lebih dari sekadar menyediakan makanan, teknologi pangan tersebut juga berperan dalam menjaga kecukupan nutrisi masyarakat terdampak. Asupan protein yang memadai dinilai penting untuk membantu menjaga daya tahan tubuh para pengungsi, sekaligus mengurangi risiko penurunan kondisi kesehatan dan malnutrisi selama berada di lokasi pengungsian.
“Kami menyampaikan rasa empati dan bela sungkawa sedalam-dalamnya bagi saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur. Korban bencana tidak hanya membutuhkan karbohidrat instan, melainkan juga asupan protein berkualitas agar imun tubuh tetap terjaga di pengungsian,” kata Aldi.
Ia menjelaskan, pemanfaatan teknologi retort memiliki relevansi tinggi dalam penanganan bencana karena makanan dapat tetap terjaga kandungan nutrisinya, steril, dan langsung dikonsumsi tanpa memerlukan proses memasak di tengah keterbatasan fasilitas.
Selain mampu menjamin higienitas pangan dan meminimalkan risiko kontaminasi, produk berteknologi retort juga dapat didistribusikan tanpa ketergantungan pada sistem pendingin atau non-cold chain. Karakteristik tersebut membuatnya lebih fleksibel untuk menjangkau wilayah-wilayah terdampak yang mengalami gangguan akses energi maupun logistik.
Aldi menilai langkah yang dilakukan Toko Daging Nusantara menjadi contoh terobosan kemanusiaan yang tepat sasaran. Produk pangan siap santap dengan teknologi retort dinilai memiliki efektivitas tinggi untuk mendukung kebutuhan logistik di kawasan bencana.
Dengan masa simpan yang dapat mencapai hingga satu tahun, produk tersebut juga dinilai berpotensi menjadi bagian penting dari sistem cadangan pangan untuk kondisi darurat.
Atas dasar itu, Forum CSR DKI Jakarta mendorong agar pemanfaatan teknologi pangan retort dapat diadopsi secara lebih luas dalam kebijakan kebencanaan nasional.
Replikasi inovasi tersebut diharapkan dapat melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Sosial, Badan Pangan Nasional, hingga pemerintah daerah.
“Replikasi program pangan berteknologi retort ini layak menjadi standar utama cadangan logistik bencana nasional, karena tahan lama, bebas pendingin, aman dikonsumsi, dan menjamin ketahanan gizi masyarakat di masa darurat,” tutur Aldi.
Ke depan, Forum CSR DKI Jakarta berharap kolaborasi antara industri teknologi pangan, dunia usaha, lembaga kemanusiaan, dan pemerintah dapat terus diperkuat. Sinergi tersebut dinilai penting untuk membangun sistem respons kebencanaan yang tidak hanya cepat dalam menyalurkan bantuan, tetapi juga mampu menjaga martabat serta keberlanjutan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat terdampak.
Di tengah meningkatnya tantangan penanganan bencana, inovasi pangan yang praktis, tahan lama, dan bernutrisi menjadi salah satu elemen penting dalam memperkuat kesiapsiagaan nasional. Kolaborasi antara teknologi, aksi korporasi, dan kebijakan pemerintah pun diharapkan dapat menghadirkan respons kemanusiaan yang semakin cepat, tepat sasaran, dan berkelanjutan. (*)












