CSRINDONESIANEWS – Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan serta dampak kekeringan yang melanda Kecamatan Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) mengambil peran aktif. Tak hanya melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), WHW juga mengerahkan tim dan berbagai peralatan untuk membantu penanganan karhutla hingga ke wilayah permukiman masyarakat.
Musim kering membawa tantangan tersendiri bagi masyarakat Kecamatan Kendawangan. Ancaman kebakaran lahan tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat dan meningkatkan risiko terhadap permukiman.
Situasi tersebut mendorong PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) untuk memperkuat dukungan kepada pemerintah daerah, petugas di lapangan, serta masyarakat. Respons dilakukan melalui dua pendekatan sekaligus: bantuan CSR untuk memperkuat kesiapsiagaan dan kebutuhan masyarakat, serta keterlibatan langsung dalam penanganan kebakaran.
Manager CSR WHW, Ari Djanuar Prasetyo, mengatakan dukungan tersebut merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk berkontribusi terhadap penanganan kondisi darurat di sekitar wilayah operasional.
“Kami berharap bantuan ini dapat mendukung pemerintah dan petugas di lapangan dalam menghadapi karhutla,” ujar Ari.
Memperkuat Peralatan di Garis Depan
Salah satu bentuk dukungan diwujudkan melalui penyaluran bantuan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ketapang pada 9 Agustus 2026.
WHW menyerahkan 10 unit selang pemadam berukuran 1,5 inci dengan tekanan 13 bar, masing-masing memiliki panjang 30 meter. Peralatan tersebut dirancang untuk mendukung penggunaan pompa dorong sehingga petugas dapat menjangkau titik-titik kebakaran yang sulit diakses kendaraan pemadam.
Dukungan tidak berhenti pada peralatan. WHW juga memperhatikan kondisi petugas dan relawan yang bekerja di lapangan dengan memberikan 400 kaplet multivitamin, 500 kaplet suplemen penambah darah, 360 botol minuman isotonik, serta 330 kaleng susu murni steril.
Bantuan tersebut diterima langsung oleh Kepala BPBD Kabupaten Ketapang, Yunifar Purwantoro.
Menurut Ari, dukungan tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk hadir ketika kondisi darurat terjadi di sekitar wilayah operasional.
Perlindungan untuk Masyarakat dan Sekolah
Dampak karhutla tidak hanya dirasakan oleh petugas pemadam. Asap yang muncul akibat kebakaran juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Karena itu, WHW memperluas dukungan kepada masyarakat melalui pembagian masker.
Pada 25–27 Agustus 2026, masker disalurkan kepada lima sekolah di wilayah Kendawangan, yakni MTs Al Hidayah Az Zain, SDN 15 Kendawangan, SMPN 7 Kendawangan, SMAN 1 Kendawangan, dan SMKN 1 Kendawangan.
Jumlah masker disesuaikan dengan jumlah siswa dan guru di masing-masing sekolah. Program tersebut juga akan dilanjutkan ke sekolah-sekolah lainnya di wilayah Kendawangan.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya WHW untuk memperluas perlindungan masyarakat sekolah di tengah kondisi udara yang terdampak asap karhutla.
Menjawab Krisis Air Bersih
Kondisi musim kering juga menghadirkan persoalan lain: keterbatasan air bersih.
Pada 28 Agustus 2026, WHW merespons kebutuhan dasar masyarakat di Dusun Silingan, Desa Mekar Utama, Kecamatan Kendawangan, melalui dukungan fasilitas air bersih.
Bantuan tersebut diwujudkan dalam bentuk pembangunan sumur bor dan reservoir yang dilengkapi dua unit toren air berkapasitas masing-masing 5 meter kubik.
Dukungan ini menjadi respons perusahaan terhadap krisis ketersediaan air yang dialami masyarakat akibat kondisi kekeringan.
Dengan demikian, kepedulian WHW tidak hanya diarahkan pada penanganan api, tetapi juga pada kebutuhan masyarakat yang muncul sebagai dampak dari kondisi cuaca dan lingkungan.
Siaga 24 Jam, Tim WHW Turun ke Lapangan
Di luar program CSR, WHW juga mengambil peran langsung dalam penanganan karhutla.
Sejak 23 Juli 2026, perusahaan menerapkan Siaga 1 Penanggulangan Karhutla dan mengerahkan tim gabungan yang terdiri atas Fire Brigade, Security, serta tim pendukung perusahaan.
Tim tersebut disiagakan selama 24 jam melalui sistem rotasi. Tugasnya meliputi pemantauan, pemadaman, pembasahan, pendinginan, hingga penyekatan di area yang berpotensi terdampak kebakaran.
Langkah tersebut dilakukan menyusul munculnya kebakaran di area sekitar sisi selatan hingga timur perusahaan yang kemudian berkembang dan mendekati sejumlah kawasan permukiman masyarakat.
Untuk mendukung operasi, WHW mengerahkan dua unit mobil pemadam kebakaran, dua unit mobil patroli Security, dua unit ekskavator, satu unit tangki air, serta berbagai peralatan pendukung lainnya.
Pada area gambut yang masih menyimpan potensi bara api, tim menerapkan sejumlah metode penanganan, seperti re-wetting and cooling, penyekatan, serta mud mixing and extreme cooling isolation.
“Penanganan tersebut dilakukan untuk mendinginkan area, membatasi pergerakan api, sekaligus mengurangi potensi munculnya kembali titik api,” kata Ari.
Ketika Api Mendekati Permukiman
Komitmen WHW juga terlihat dari respons terhadap permintaan bantuan masyarakat ketika kebakaran mulai mendekati permukiman.
Pada 28 Juli 2026, Tim Damkar WHW bersama Security dan didukung kendaraan tangki air merespons permintaan bantuan dari Manggala Agni Kecamatan Kendawangan dan masyarakat untuk melakukan pemadaman di Dusun Sungai Gantang.
Penanganan berlangsung hingga malam hari dan api berhasil dipadamkan.
Respons serupa dilakukan pada 7 Agustus 2026, ketika masyarakat Dusun Sungai Tengar meminta bantuan karena kebakaran lahan telah mendekati permukiman warga. Tim Damkar dan Security WHW kemudian diterjunkan bersama tim pendukung dan masyarakat untuk membantu proses pemadaman.
Pada 8–10 Agustus 2026, tim WHW kembali melakukan pemadaman dan pendinginan di sejumlah titik api yang muncul di area selatan, timur, dan utara perusahaan.
Manager Security PT WHW, Hendra Wattimena, yang menjadi perwakilan manajemen dalam penanganan karhutla, mengatakan perusahaan tidak hanya berfokus pada area operasional.
“WHW juga merespons permintaan dari warga dan masyarakat yang membutuhkan bantuan pemadaman. Kami bersama Tim Damkar melakukan pemadaman dengan dibantu elemen masyarakat,” ujarnya.
Menurut Hendra, kondisi karhutla yang cepat berkembang membuat penanganannya tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja.
“Kami menyadari bahwa penanganan karhutla membutuhkan sinergi semua pihak. Karena itu, WHW akan terus berkoordinasi dengan pemerintah di Kecamatan Kendawangan, aparat BPBD, Manggala Agni, dan masyarakat untuk bersama-sama mencegah dan menangani karhutla,” katanya.
BPBD: Respons Cepat Sangat Membantu
Keterlibatan dunia usaha dalam penanganan bencana mendapat apresiasi dari pemerintah daerah.
Kepala BPBD Kabupaten Ketapang, Yunifar Purwantoro, mengapresiasi dukungan WHW yang dinilainya cepat dan tepat sasaran.
“BPBD Kabupaten Ketapang menyampaikan apresiasi kepada PT Well Harvest Winning Alumina Refinery (WHW) yang menjadi perusahaan pertama yang memberikan dukungan bantuan secara cepat kepada BPBD dalam menghadapi kondisi karhutla di wilayah Kabupaten Ketapang,” ujar Yunifar.
Ia menilai bantuan selang pemadam memiliki manfaat penting karena dapat membantu petugas menjangkau lokasi yang sulit diakses kendaraan pemadam.
Dengan dukungan pompa dorong, selang sepanjang 30 meter tersebut memberikan fleksibilitas lebih besar bagi petugas dalam melakukan pemadaman di titik-titik yang memiliki keterbatasan akses.
Yunifar juga mengapresiasi perhatian WHW terhadap kebutuhan petugas dan relawan yang berada di lapangan.
“Bagi kami, dukungan ini menunjukkan respons cepat dan kepedulian perusahaan terhadap kondisi darurat yang dihadapi masyarakat, sekaligus menjadi bentuk sinergi yang baik antara dunia usaha dan pemerintah daerah,” ujarnya.
Ia juga melihat langsung keterlibatan WHW dalam membantu pemadaman kebakaran di wilayah masyarakat yang berdekatan dengan area operasional perusahaan.
“Respons yang cepat dan sigap tersebut tentunya sangat membantu dalam mendukung upaya penanganan kebakaran di lapangan,” tambahnya.
Dari Perusahaan untuk Masyarakat
Apresiasi juga datang dari masyarakat. Kepala Desa Mekar Utama, Uti Hasbuna, menyampaikan terima kasih atas kepedulian dan dukungan WHW dalam membantu penanganan kebakaran lahan di wilayahnya.
“Saya selaku Kepala Desa Mekar Utama mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih kepada Manajemen WHW atas kepeduliannya kepada lingkungan, khususnya kepada masyarakat di Kecamatan Kendawangan,” ujar Uti.
Menurutnya, bantuan peralatan pemadaman menjadi dukungan yang sangat berarti bagi masyarakat, terutama untuk menjangkau lokasi yang tidak dapat diakses kendaraan tangki.
“Bantuan ini sangat membantu sekali dan sangat berarti untuk mencegah kebakaran lahan dan hutan yang ada di Kendawangan, khususnya Desa Mekar Utama,” katanya.
Kolaborasi sebagai Kunci
Karhutla bukan persoalan yang dapat diselesaikan hanya dengan memadamkan api. Pencegahan, kesiapsiagaan, kecepatan respons, perlindungan masyarakat, hingga pemulihan dampak menjadi bagian yang saling berkaitan.
Apa yang dilakukan WHW di Kendawangan memperlihatkan bagaimana peran perusahaan dapat berjalan beriringan dengan pemerintah dan masyarakat. Bantuan peralatan memperkuat kapasitas petugas, dukungan nutrisi menjaga kondisi relawan, pembagian masker memberikan perlindungan bagi lingkungan sekolah, sementara fasilitas air bersih menjawab kebutuhan dasar masyarakat di tengah kekeringan.
Di saat yang sama, keberadaan tim siaga selama 24 jam menunjukkan bahwa respons terhadap karhutla membutuhkan kesiapan yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, upaya menjaga Kendawangan dari ancaman karhutla bukan hanya tentang seberapa cepat api dipadamkan, tetapi juga tentang seberapa kuat seluruh elemen membangun kesiapsiagaan dan saling membantu.
Bagi WHW, komitmen tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab untuk tumbuh bersama masyarakat dan menjaga lingkungan di sekitar wilayah operasional perusahaan. (*)












