CSRINDONESIANEWS – Upaya menghadirkan pendidikan yang berkualitas tidak hanya bergantung pada ruang kelas dan kurikulum. Cara belajar yang menyenangkan, dukungan orang tua, kompetensi guru, serta keterlibatan komunitas turut menjadi bagian penting dalam membentuk pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi anak.
Semangat tersebut menjadi landasan program “Oreo Berbagi Seru” yang kembali digelar di sejumlah daerah di Indonesia. Kali ini, program yang diinisiasi Oreo dan dijalankan bersama Indonesia Mengajar hadir di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan.
Program ini merupakan bagian dari komitmen Oreo dalam mendukung visi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen), “Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Selain menghadirkan kegiatan edukasi, program juga mendistribusikan berbagai alat belajar yang dirancang dengan pendekatan bermain sambil belajar.
Tidak hanya menyasar siswa, Oreo Berbagi Seru melibatkan ekosistem pendidikan secara lebih luas, mulai dari guru, orang tua hingga komunitas. Di Ogan Ilir, program ini memberikan manfaat kepada 625 siswa sekolah dasar melalui distribusi 270 alat belajar seru.
Belajar Sambil Bermain
Pendekatan playful learning menjadi salah satu kekuatan utama program ini. Berbagai alat belajar yang diberikan dirancang untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan literasi, numerasi, sains, dan Bahasa Inggris. Materinya disesuaikan dengan kurikulum nasional sehingga dapat digunakan sebagai bagian dari aktivitas pembelajaran.
Program tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir karena dinilai sejalan dengan agenda peningkatan akses sekaligus kualitas pendidikan.
Sayadi, S.Sos., M.Si., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ogan Ilir, yang dalam kesempatan tersebut diwakili oleh Muslih Hidayat, S.Pd.Gr., Pengawas Kabupaten Ogan Ilir, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan program.
“Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ogan Ilir menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Oreo atas inisiatif program ‘Oreo Berbagi Seru’, yang sejalan dengan visi Kemendikdasmen, ‘Pendidikan Bermutu untuk Semua’,” ujar Muslih.
Menurutnya, guru tetap menjadi ujung tombak proses pendidikan. Namun, kehadiran program yang memperkenalkan metode pembelajaran alternatif dapat membantu meningkatkan kapasitas pendidik dalam menciptakan suasana belajar yang lebih efektif.
“Kami sebagai pendidik berperan sebagai ujung tombak, tapi dengan adanya program ini tentu bisa meng-upgrade kemampuan para guru di kelas,” katanya.
Muslih menilai konsep belajar sambil bermain juga dapat menciptakan suasana pembelajaran yang lebih nyaman bagi anak.
“Program ini tidak hanya menghadirkan pemerataan kesempatan belajar yang bermutu, tapi juga menghadirkan keseruan dan kebahagiaan bagi anak-anak dengan membawa semangat edukasi yang sangat penting, yaitu belajar sambil bermain,” ujarnya.
Ia berharap pendekatan tersebut dapat meningkatkan partisipasi siswa sekaligus membantu mereka memahami materi dengan lebih baik.
“Mudah-mudahan saat kita mengajar dengan menghadirkan kenyamanan dan permainan, persentase anak-anak yang mengikuti dan memahami materi tentu lebih besar,” tambahnya.
Lebih jauh, Muslih melihat akses terhadap sarana dan prasarana belajar yang memadai sebagai salah satu faktor penting dalam memperkecil kesenjangan kualitas pendidikan, khususnya di daerah.
“Program ini adalah bentuk kepedulian yang sangat berarti karena akses terhadap sarana dan prasarana belajar yang memadai merupakan salah satu kunci dalam mendukung kesetaraan kualitas pendidikan Indonesia, utamanya di daerah,” katanya.
Ia pun berharap kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat terus dikembangkan untuk menghasilkan dampak yang nyata dan inklusif bagi generasi penerus.
Menjangkau 7 Provinsi
Marketing Director Mondelēz Indonesia, Anggya Kumala, mengatakan pendekatan pembelajaran yang menyenangkan sejalan dengan purpose Oreo dalam menciptakan kebersamaan melalui berbagai momen penuh keseruan.
“Oreo meyakini bahwa pembelajaran yang menyenangkan akan memberikan pengalaman yang lebih bermakna untuk anak,” ujar Anggya.
Menurutnya, pendekatan tersebut telah dihadirkan melalui program “Oreo Berbagi” sejak 2024 dengan fokus pada pemberdayaan orang tua, guru, dan komunitas melalui kegiatan edukasi playful learning serta penyaluran donasi.
Pada 2026, program tersebut dikembangkan dengan mengusung tema “Oreo Berbagi Seru”. Inisiatif ini diarahkan untuk mendukung peningkatan kualitas pembelajaran sekaligus membantu menjembatani kesenjangan pendidikan di tujuh kabupaten yang tersebar di tujuh provinsi.
Wilayah tersebut mencakup Banten, Jawa Barat, Lampung, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara. Beberapa lokasi bahkan berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta kawasan marginal.
Secara keseluruhan, program “Oreo Berbagi Seru” menargetkan manfaat bagi sekitar 7.000 siswa.
Ogan Ilir menjadi kabupaten keenam yang disambangi dalam rangkaian program tersebut. Selain mendistribusikan alat belajar, kegiatan di Sumatera Selatan juga dilengkapi dengan pelatihan yang berlangsung pada 19–22 Agustus 2026.
Pelatihan tersebut melibatkan 35 guru, 70 orang tua, dan 35 anggota komunitas. Tujuannya adalah memperkuat peran masing-masing pihak dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih suportif dan berkelanjutan.
Bagi guru, pelatihan difokuskan pada pengenalan filosofi belajar seru serta pemanfaatan alat belajar melalui simulasi penerapannya di ruang kelas.
Sementara bagi orang tua, materi diarahkan pada pemahaman mengenai perkembangan anak serta cara menghadirkan aktivitas belajar yang lebih interaktif di rumah melalui permainan sederhana.
Adapun bagi komunitas, kegiatan diarahkan untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam membangun lingkungan belajar yang berkelanjutan.
Respons Positif dari Sekolah dan Orang Tua
Pendekatan belajar sambil bermain mendapat respons positif dari para pendidik di Ogan Ilir.
Ai Resnawati, Kepala Sekolah SDN 1 Indralaya Selatan, mengatakan penggunaan alat belajar seru membantu guru memahami sekaligus mengeksplorasi metode pembelajaran yang lebih sesuai dengan karakter anak.
“Metode belajar sambil bermain menggunakan alat-alat belajar seru dari Oreo sangat membantu kami dalam memahami, mengeksplorasi, dan menerapkan cara belajar yang disukai anak,” kata Ai.
Menurutnya, perubahan pendekatan tersebut turut mendorong siswa menjadi lebih aktif selama proses pembelajaran.
“Mereka jadi lebih aktif bertanya dan terdorong untuk menguasai materi yang sedang dipelajari. Melihat respons yang sangat positif ini, saya menjadi ikut termotivasi untuk mengeksplorasi cara-cara kreatif untuk semakin menghidupkan suasana belajar di kelas,” lanjutnya.
Pengalaman serupa dirasakan Erni Yusnita, salah satu perwakilan orang tua siswa. Baginya, aktivitas belajar di rumah selama ini kerap menjadi rutinitas yang menantang, baik bagi orang tua maupun anak.
Program tersebut membuka perspektif baru bahwa proses belajar tidak harus berlangsung secara kaku.
“Program ini membuka mata saya bahwa belajar tidak harus dilakukan dengan cara yang kaku, karena ternyata bisa dikemas lewat permainan,” ujar Erni.
Menurutnya, ketika anak menikmati proses belajar, orang tua pun menjadi lebih mudah membangun suasana positif di rumah.
“Saat anak merasa senang, orang tua pastinya juga jadi lebih semangat mengajarkan. Saya yakin nantinya belajar akan jadi momen seru yang selalu kami nantikan,” katanya.
Mengajak Konsumen Terlibat
Menariknya, dukungan terhadap program “Oreo Berbagi Seru” juga dibuka melalui aktivitas konsumsi produk. Masyarakat dapat berkontribusi dengan membeli produk Oreo, karena sebagian keuntungan penjualan akan didonasikan untuk mendukung pelaksanaan program.
Model ini memperlihatkan bagaimana aktivitas bisnis dapat dikaitkan dengan agenda sosial yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, khususnya di sektor pendidikan.
“Kami harap seluruh keseruan program ini dapat memperkuat semangat bersama untuk memberikan pengalaman belajar yang mampu membantu anak-anak Indonesia,” kata Anggya.
Ia berharap program tersebut dapat berkontribusi dalam membentuk Generasi SERU—generasi yang Solutif, Eksploratif, Responsif, dan Unggul—sehingga mampu menghadapi tantangan masa depan dengan lebih percaya diri.
“Kelak mereka bisa tumbuh menjadi Generasi SERU. Generasi yang berkarakter Solutif, Eksploratif, Responsif, dan Unggul dalam menghadapi berbagai tantangan di masa depan,” tutup Anggya. (*)












