BeritaLingkungan

Ajak Warga Peduli Lingkungan, Alfamidi Salurkan 300 Sarana Pilah Sampah Organik

2
×

Ajak Warga Peduli Lingkungan, Alfamidi Salurkan 300 Sarana Pilah Sampah Organik

Sebarkan artikel ini
Ajak warga peduli lingkungan, Alfamidi salurkan 300 sarana pilah sampah organik.

CSRINDONESIANEWS – PT Midi Utama Indonesia Tbk (Alfamidi) mengajak warga peduli lingkungan dan menyalurkan 300 unit sarana pemilahan sampah untuk warga 300 warga Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.

Penyaluran dilakukan berkat kolaborasi bersama Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta dalam Pilot Project Pengelolaan Sampah Kolaboratif dan Edukasi Pemilahan Sampah Door to Door di RW 06 Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Senin.

Corporate Communication Manager Alfamidi Retriantina Marhendra dalam keterangannya, Rabu mengatakan melalui dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) Alfamidi, perusahaan mendorong peningkatan budaya memilah sampah dari rumah tangga.

“Kami berharap melalui sarana ini, warga bisa memilah sampah organik seperti sampah sisa makanan dan dapur sehingga tidak terbuang begitu saja ke tempat pemrosesan akhir sampah,” katanya.

Ia menambahkan, sampah organik yang terbuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA) akan menimbulkan gas metana dan bisa meningkatkan emisi karbon. Oleh karena itu, dukungan sarana pemilahan ini menjadi salah satu upaya mendorong kepedulian lingkungan.

Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional, Kementerian Lingkungan Hidup, total timbunan sampah tahun 2025 mencapai 20,25 juta hingga 29,2 juta ton per tahun. Dari jumlah itu, jenis sampah organik sisa makanan mendominasi mencapai lebih dari 40 persen, lalu di urutan selanjutnya sampah plastik, kayu, kertas, logam dan kaca.

Dilihat dari sumbernya, sektor rumah tangga menjadi penyumbang terbesar sampah sebesar 51,38 persen disusul sektor lainnya seperti perkantoran, fasilitas publik dan industri.

Sementara itu, kondisi TPA Indonesia saat ini berada pada tahap krisis karena kelebihan kapasitas (overcapacity) akibat maraknya praktik pembuangan terbuka (open dumping).

Aliansi Zero Waste Indonesia menyebutkan, sampah organik di TPA memicu produksi gas metana akibat pembusukan tanpa oksigen (anaerobik).

BACA JUGA :  XLSMART Salurkan Bantuan Kebutuhan Pokok dan Akses Komunikasi bagi Korban Bencana di NTT

Hal ini berkontribusi pada pemanasan global dan meningkatkan risiko kebakaran area TPA.

Dengan pengelolaan sampah organik dari sumbernya, warga bisa ikut mengurangi beban TPA. Sampah organik juga bisa dijadikan pupuk organik (kompos) dan pakan ternak (maggot).

Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta, Purwanti Suryandari menilai kolaborasi antara pemerintah, masyarakat dan mitra menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah berbasis lingkungan.

“Edukasi yang dilakukan secara door to door menjadi pendekatan utama dalam pilot project ini karena memberikan ruang interaksi langsung antara volunteer dan warga,” ucapnya.

Dalam program percontohan ini, volunteer seperti kader PKK, kader Dasawisma dan mitra lainnya ikut terlibat mengedukasi dan mendampingi pemilahan sampah warga. Pendekatan ini memungkinkan masyarakat memahami cara pemilahan sampah organik dan anorganik dari hulu.

Melalui kegiatan ini, Alfamidi berkomitmen terus hadir dan memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Warga pun bisa memanfaatkan sarana dengan maksimal demi mewujudkan lingkungan lebih bersih, sehat dan berkelanjutan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *