MangroveFest 2026 resmi dibuka di Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai ajang kolaborasi berbagai pemangku kepentingan dalam memperkuat pelestarian ekosistem mangrove dan pemberdayaan masyarakat pesisir. Kegiatan yang berlangsung pada 30 Juli hingga 2 Agustus 2026 ini menghadirkan rangkaian program edukatif, diskusi, aksi lapangan, hingga hiburan yang melibatkan pemerintah, komunitas, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat. Mengusung semangat keberlanjutan, MangroveFest menjadi wadah berbagi pengetahuan sekaligus memperkenalkan peran strategis mangrove dalam mendukung ketahanan iklim dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Selama empat hari pelaksanaan, peserta diajak untuk melihat secara langsung berbagai praktik baik pengelolaan mangrove berbasis masyarakat di kawasan IKN. Festival ini diharapkan menjadi agenda tahunan yang memperkuat posisi IKN sebagai contoh kota yang mengintegrasikan pembangunan dengan pelestarian lingkungan.

Rangkaian kegiatan diawali pada 30 Juli dengan media briefing yang memperkenalkan tujuan, program, serta berbagai kolaborasi yang terlibat dalam penyelenggaraan MangroveFest 2026. Selanjutnya, peserta melakukan kunjungan lapangan ke Desa Sepatin untuk meninjau hasil penanaman mangrove yang telah dilakukan satu tahun sebelumnya sebagai bagian dari upaya rehabilitasi kawasan pesisir. Kunjungan tersebut memberikan gambaran mengenai tingkat pertumbuhan mangrove sekaligus memperlihatkan dampak nyata kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai mitra dalam menjaga ekosistem pesisir. Selain observasi lapangan, peserta juga berdialog langsung dengan masyarakat mengenai manfaat ekologis maupun ekonomi yang mulai dirasakan dari keberadaan kawasan mangrove. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa keberhasilan restorasi mangrove membutuhkan komitmen jangka panjang serta pemantauan yang berkelanjutan.
MangroveFest 2026 juga menghadirkan forum diskusi dan talk show yang mempertemukan para pelaku konservasi mangrove dari berbagai kelompok masyarakat. Dalam sesi tersebut hadir Asharudin dari KTH Gemilang Sejahtera Abadi, Suardi dari KTH Peduli Mangrove, serta Andi Firmansyah dari KTH Mangrove Borneo yang berbagi pengalaman mengenai pengelolaan mangrove berbasis komunitas. Diskusi membahas tantangan rehabilitasi kawasan pesisir, pemberdayaan masyarakat lokal, hingga peluang pengembangan ekonomi melalui pemanfaatan hasil olahan mangrove secara berkelanjutan. Para narasumber juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keberlangsungan ekosistem mangrove sebagai benteng alami menghadapi perubahan iklim. Melalui forum ini, MangroveFest menjadi ruang berbagi inspirasi sekaligus memperkuat jejaring antar komunitas konservasi dari berbagai daerah di Indonesia.

Puncak penyelenggaraan MangroveFest 2026 berlangsung pada 1 Agustus dengan pembukaan resmi oleh Basuki Hadimuljono, Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN). Dalam sambutannya, Basuki menegaskan bahwa keberadaan mangrove memiliki peran strategis dalam mendukung visi pembangunan IKN sebagai kota hutan yang berkelanjutan dan berketahanan terhadap perubahan iklim. “Mangrove bukan hanya bagian dari lanskap pesisir, tetapi juga aset ekologis yang harus dijaga bersama. Melalui MangroveFest 2026, kita menunjukkan bahwa pembangunan dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan melalui kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan. Saya berharap festival ini menjadi inspirasi bagi lahirnya lebih banyak inovasi dan aksi nyata dalam menjaga ekosistem mangrove Indonesia,” ujar Basuki Hadimuljono. Ia juga mengajak seluruh pihak untuk terus memperkuat sinergi dalam menjaga kawasan pesisir sebagai bagian penting dari masa depan IKN yang hijau dan berkelanjutan. Pembukaan festival ditandai dengan seremoni yang dihadiri berbagai pemangku kepentingan dari tingkat nasional maupun daerah.
Selain menghadirkan kegiatan edukasi dan diskusi, MangroveFest 2026 juga menyuguhkan berbagai aktivitas yang melibatkan masyarakat secara langsung. Pengunjung dapat menikmati pertunjukan musik dari sejumlah penampil yang memeriahkan suasana festival sekaligus menjadi ruang interaksi bagi komunitas dan keluarga. Berbagai booth UMKM menampilkan aneka produk olahan mangrove, mulai dari makanan, minuman, hingga produk kerajinan yang mencerminkan potensi ekonomi berbasis sumber daya pesisir. Festival ini juga menghadirkan kegiatan electric motorcycle riding bersama komunitas motor listrik yang mengelilingi kawasan IKN sebagai kampanye penggunaan transportasi ramah lingkungan. Kehadiran berbagai aktivitas tersebut menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan dapat dikemas secara menarik, inklusif, dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan demikian, MangroveFest tidak hanya menjadi ajang konservasi, tetapi juga festival yang menggabungkan edukasi, budaya, inovasi, dan gaya hidup berkelanjutan.

Melalui penyelenggaraan MangroveFest 2026, Otorita IKN bersama seluruh mitra berharap dapat memperkuat kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga ekosistem mangrove sebagai bagian dari pembangunan Indonesia yang berkelanjutan. Festival ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas, akademisi, dan sektor swasta mampu menciptakan dampak positif bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Berbagai rangkaian kegiatan yang diselenggarakan selama empat hari diharapkan mampu melahirkan gagasan, jejaring, dan kolaborasi baru dalam mendukung konservasi mangrove di berbagai wilayah Indonesia. MangroveFest juga menjadi ruang untuk memperlihatkan praktik-praktik baik yang telah dilakukan masyarakat dalam menjaga kawasan pesisir secara berkelanjutan. Ke depan, festival ini diharapkan terus berkembang sebagai agenda nasional yang mendorong lahirnya inovasi, kolaborasi, dan aksi nyata demi menjaga kelestarian ekosistem mangrove Indonesia.

