PT Solusi Energy Nusantara kembali menjalankan program restorasi lingkungan tahun kedua dengan fokus baru pada pemberdayaan masyarakat pesisir sebagai aktor utama konservasi. Dalam kegiatan yang berlangsung pada 27–28 November, perusahaan bersama Yayasan Mangrove Indonesia Lestari melakukan penanaman 400 mangrove, transplantasi 100 coral, pelepasan 200 bibit ikan, serta aksi bersih pantai. Tahun ini, pendekatan CSR diperluas bukan hanya pada rehabilitasi ekosistem, tetapi juga pada peningkatan kapasitas masyarakat melalui pelibatan aktif warga lokal dalam setiap tahap kegiatan. Komunitas pesisir dilatih untuk memahami manfaat ekonomi turunan dari mangrove dan coral, seperti perikanan, wisata, serta perlindungan dari abrasi. Pendekatan ini menciptakan rasa kepemilikan (sense of ownership) yang lebih kuat sehingga upaya konservasi dapat bertahan lebih lama. Program yang semula berfokus pada penanaman kini berkembang menjadi gerakan sosial-ekologis yang diarahkan untuk memperkuat ketahanan iklim di tingkat lokal. Melalui cara ini, perusahaan ingin memastikan bahwa manfaat lingkungan juga dirasakan langsung oleh keluarga di pesisir.

Ketua CSR PT Solusi Energy Nusantara, Deni Karsa Pamungkas, menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat adalah inti dari keberhasilan program restorasi. Menurutnya, program lingkungan tidak hanya menanam bibit tetapi juga menanam pengetahuan, sehingga masyarakat mampu menjaga ekosistem mereka secara mandiri. “Kami percaya keberlanjutan hanya bisa tercapai jika masyarakat dilibatkan sebagai mitra utama, bukan sebagai objek program. Karena itu, kegiatan ini dirancang untuk memberi manfaat ekonomi, pengetahuan, dan perlindungan jangka panjang bagi masyarakat pesisir,” ujar Deni. Ia menjelaskan bahwa perusahaan kini berfokus pada keberlanjutan sosial, bukan hanya keberlanjutan ekologis. Dengan kerja bersama komunitas, semua pihak dapat saling mendukung menjaga lingkungan dalam jangka panjang. Deni berharap kolaborasi seperti ini menjadi standar baru dalam praktik CSR di Indonesia. Baginya, keberhasilan program adalah ketika masyarakat mampu melanjutkannya tanpa bergantung pada pihak luar.
Sementara itu, Paundra Hanutama, Founder Mangrove Jakarta, menekankan bahwa ekosistem pesisir akan pulih lebih cepat ketika masyarakat menjadi bagian langsung dari proses konservasi. Paundra menilai bahwa perubahan perilaku adalah fondasi utama dari keberhasilan jangka panjang, dan hal itu hanya dapat terjadi bila warga lokal memahami nilai ekologis dan ekonominya. “Mangrove dan coral adalah sumber kehidupan, dan masyarakat pesisir adalah penjaganya. Ketika mereka terlibat sejak awal, maka keberlanjutan tidak lagi menjadi konsep abstrak, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” kata Paundra. Ia menambahkan bahwa kegiatan tahun ini bukan hanya restorasi fisik tetapi juga restorasi pengetahuan dan hubungan manusia dengan alam. Sinergi dengan perusahaan memperkuat kemampuan komunitas menjaga pesisir mereka. Menurutnya, jika ekosistem pulih, maka ekonomi lokal ikut bangkit, terutama sektor perikanan dan wisata alam. Dengan cara ini, konservasi menjadi gerakan kolektif yang berakar kuat.

Selain fokus pada pemberdayaan, program ini juga memperkenalkan pendekatan monitoring partisipatif di mana masyarakat dilatih untuk memantau pertumbuhan mangrove dan coral secara berkala. Pendekatan ini memastikan bahwa masyarakat memiliki kapasitas teknis untuk mendokumentasikan perkembangan ekosistem secara mandiri. Peserta kegiatan mendapatkan pelatihan mengenai kualitas air, struktur substrat, teknik penanaman, serta ancaman seperti sampah dan perubahan tutupan lahan. Beach clean-up turut melibatkan warga dan relawan, menekankan pentingnya aksi nyata dalam mengurangi polusi laut yang berdampak langsung pada ekosistem mangrove dan coral. Melalui monitoring jangka panjang, masyarakat dapat melihat perubahan nyata dari aksi yang mereka lakukan. Pendekatan ini menciptakan kesinambungan dan memastikan program tidak berhenti setelah acara selesai. Upaya ini membangun kesadaran bahwa menjaga pesisir bukan hanya pekerjaan satu hari, tetapi proses berkelanjutan.
Tahun kedua program ini menjadi bukti bahwa restorasi ekosistem dapat memberikan dampak lebih luas ketika digabungkan dengan pemberdayaan komunitas. PT Solusi Energy Nusantara berkomitmen memperluas model ini ke wilayah pesisir lainnya, sekaligus mengintegrasikannya ke dalam strategi keberlanjutan perusahaan. Kerja sama dengan Yayasan Mangrove Indonesia Lestari akan terus diperkuat melalui riset, edukasi, dan pendekatan berbasis data. Dengan menjadikan masyarakat sebagai pusat gerakan, program ini menciptakan perubahan yang lebih tahan lama dan memberi manfaat baik untuk lingkungan maupun ekonomi. Perusahaan berharap inisiatif ini menjadi inspirasi bagi korporasi lain untuk menerapkan program CSR yang lebih berdampak. Restorasi ekosistem bukan hanya soal menanam, tetapi tentang merawat masa depan bersama. Dengan konsistensi, sinergi, dan komitmen, masa depan pesisir Indonesia akan jauh lebih terlindungi.

